Batu Kraton Cisarua Masih Menyimpan Misteri

62

Bogor ( Garudanews.id ) – Belum banyak yang terungkap tentang misteri Batu Kramat atau Batu Kraton di Kampung Ciburial Kraton, Rt. 05/05, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Garudanews.id mencoba menggali sejarah dan mitos mitos tentang Batu Kraton. Dari beberapa sumber, baik masyarakat sekitar maupun di dunia maya. Namun belum ada cerita yang mampu mengupas keberadaan Batu Kraton dan sejarahnya. Untuk melengkapi cerita tentang Batu Kraton, Garudanews.id akan menyajikan dalam beberapa cerita.

Menuju Batu Kraton bagi yang belum tahu memang bukan hal yang mudah. Selain minimnya penunjuk arah, memasuki lokasinyapun hanya ada gang kecil di tengah perkampungan padat penduduk. Ditambah lagi di gang masuk juga tidak terpampang petunjuk atau plang nama Batu Kraton.

Untuk parkir kendaraan pengunjung pun juga tidak tersedia. Jika membawa mobil, parkirnya harus di bawah +- 200 meter dari lokasi. Sementara untuk kendaraan roda dua hanya bisa parkir di gang gang kecil rumah warga.

Situs Batu Kraton sudah masuk perbendaharaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor. Hal itu nampak dari papan informasi yang di pasang di depan Situs.

Batu Kraton adalah sebuah gundukan batu sebesar kurang lebih 150 m2 dengan ketingian 3-4 meter. Memang sangat besar jika dilihat dari dekat. Dan batu itu hanya satu satunya di lokasi, tidak batu batu lain di sekitar lokasi.

Di dalam area Batu Kraton ada 3 petilasan, yaitu Petilasan Pangeran Dita Ciptarasa, Petilasan Eyang Haji Gunawidjaya dan Petilasan Ratu Dewi Fatimah.

Masing – masing petilasan di buatkan sebuah bangunan. Petilasan Pangeran Dita Cipta Rasa berada tepat di pintu masuk, Petilasan Ratu Dewi Fatimah berada di sebelah kiri dan petilasan Eyang Haji Guna Widjaya di sebelah kiri Belakang Batu Kraton.

Di atas Batu Kraton ada sebuah lempengan batu yang menghadap kiblat. Menurut cerita salah satu warga yang ditemui di lokasi, Lempengan Batu tersebut dulu pernah digunakan sholat oleh Presiden 1 Indonesia, Ir. Sukarno.

Lempengan batu itu tdk begitu besar, namun sangat berat. Keberadaaannyapun sudah lama.

Dede, salah satu warga sekitar menceritakan, dulu ada cerita Lokasi Batu ini sebagai tempat persenbunyian para pejuang dari kejaran tentara Belanda.

“Memang ada cerita kalau dulu itu para pejuang lari kesini untuk bersembunyi dari kejaran tentara Belanda. Jadi mereka ( para Pejuang ) hanya menempelkan badanya di Batu Kramat, orang belanda tidak bisa melihat mereka. Begitu pula dengan cerita Pak Karno yang Sholat di lempengan batu di Atas Batu Kraton” terangnya.

Sebelumnya, di samping Batu Kraton tumbuh sebuah pohon karet yang besar. Pohon itu menaungi Batu tersebut. Namun pada tahun 2010 pohon karet itu roboh. Sehingga sekarang nampak terang.

Sayangnya lokasi di sekitar Batu Kraton kurang terawat. Pagar tembok di sekeliling lokasi sudah lapuk, dan sebagian roboh. Sementara rumput di sekitar Batu kraton dibiarkan alami. Tanpa penataan yang baik.

Selama ini tidak pernah ada kegiatan atau acara acara seperti upacara ilakukan warga di sekitar Batu Kraton.

Yang ada hanya datangnya para penziarah dari berbagai daerah. ” Kalau warga sini memang tidak pernah mengadakan kegiatan di Batu Kraton, tapi kebanyakan malah orang-orang jauh yang ziarah kesini. Tidak tau bagaimana mereka tahu keberadaan Batu ini” ujar Dede.

Batu Kraton juga mempunyai juru kunci. Saat ini Juru kunci nya adalah Sopian. Anak dari juru kunci pertama, H. Abu Bakar yang sudah meninggal tahun 2003 lalu.

Perlu di lakukan penelitan terkait keberadaan Batu Kraton tersebut. Bagaimana asal muasal Batu Kraton dan mitos cerita yang ada didalamnya. Keberadaan batu sebesar itu pasti ada sebab akibatnya.

Selain itu perhatian Kepala Desa, Camat dan Disbudpar harus lebih intens. Dengan membuat pagar serta merapikan halaman ditata seperti sebuah taman. (Sunyoto Cj).

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.