Bila Prabowo Dorong Gatot, Dinamika Politik di Pilpres 2019 Dinilai akan Seru

0
321
Ilustrasi

JAKARTA (Garudanews.id) – Nama Gatot Nurmantyo rupanya tokoh yang paling tidak diinginkan oleh Joko Widodo dan pendukungnya untuk mencalonkan diri untuk maju di Pilpres 2019 mendatang.

Selain kedekatannya dengan sejumlah ulama, Gatot dinilai satu-satunya mantan jendral yang dinilai berani mengambil sikap tegasnya dalam menjaga NKRI dan kedaulatan negara meski harus bersinggungan dengan penguasa.

Terungkap saat menjadi panglima saat itu, pandangan politiknya terkait dengan tenaga kerja asing dan kedaulatan ekonomi yang saat ini banyak dikuasai oleh asing, Jenderal bintang empat itu kerap melontarkan statment yang sering tidak sejalan dengan kalangan istana.

Sejumlah pengamat pun menilai, kesuksesan Susilo Bambang Yudhonono (SBY) saat menjadi pembantu Presiden di era Megawati, tampaknya akan terulang di sosok seorang Gatot Nurmantyo.

“Diketahui, saat itu SBY dinilai sebagai pembantu yang tidak loyal terhadap Presiden. Bahkan SBY saat itu merasa didzolimi segala kebijakannya saat itu kerap berseberangan dengan Presiden Megawati, dan buntutnya SBY mengundurkan diri dari kursi menteri yang saat itu ia duduki. Peristiwa ini tampaknya terulang di era Jokowi saat memperlakukan Gatot, Tentu masih kita ingat,  Gatot pun dilengserkan jadi Panglima sebelum pensiunya berakhir,” ujar pengamat politik Dr Adi Suparto kepada garudanews.id, Minggu, (15/4).

Wajar saja, kata Adi, pendukung Joko Widodo akan merasa senang bila Ketua Umum Gerinndra kembali mencalonkan diri di Pilpres mendatang.

“Karena dari hasil survei terakhir elektabilitas Prabowo masih jalan ditempat. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh pendukung Jokowi agar Pilpres 2019 mendatang dapat dimenangkan dengan mutlak. Mengingat elektabilitas Jokowi saat ini masih unggul,” ujar Adi.

Dirinya juga mengatakan agar Prabowo legowo dengan elektabilitas yang ada saat ini diraihnya. Bahkan ia menyarankan mantan Danjen Kopassus itu menjadi “King Maker” dan mendorong  Gatot  untuk bertrung melawan Jokowi.

Entah kebetulan atau tidak, sudah menjadi catatan sejarah di pergantian kepemimpinan  negeri ini. Bagi tokoh yang merasa didzolimi oleh pendahulunya biasanya ketika maju di Pilpres bakal jadi.

“Kita ingat peristiwa Megawati yang sekian lama dalam kiprah politiknya selalu ditekan oleh rezim Soeharto, seiring dengan dinamikanya,  akhirnya Ketum PDIP itu dapat melenggang ke istana. Peristiwa serupa dialami SBY saat berbeda pandangan politik dengan Megawati bahkan perseteruannya ia harus meninggalkan kursi Menteri, di Pilpres 2009 ia berhasil mengungguli suara Megawati bahkan dia bisa melenggang dua periode,” ujarnya.

Kemudian berlanjut ke Jokowi. Saat itu nama nama Wali Kota Solo itu tidak pernah diunggulkan. Sejumlah pihak pun meragukan kepemimpinanya, karena pengalamannya hanya memimpin daerah kecil. Cemoohan dan sindiran saat itu untuk Jokowi kian gencar. Tapi arah mata angin berkata lain, Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla unggul dapat mengalahkan Prabowo-Hatta.

“Jadi kalau Gatot saat ini didukung oleh Gerindra, PAN, PKS, mungkin bisa saja PKB kami memprediksi akan membuat Jokowi kewalahan. Apalagi prabowo siap menjadi “King Maker” seperti Megawati.  Tentunya pertarungan Pilpres 2019 mendatang akan seru dan berimbang,” tutup Adi.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here