CBA Laporkan Dugaan Penyimpangan Lelang Proyek Ke Kejari Kota Bekasi

0
382
Jajang Nurjaman, (Kanan) usai melaporkan adanya dugaan korupsi proyek bantuan dari Pemprov DKI ke Kejari Kota Bekasi, Senin, (16/4).

BEKASI (Garudanews.id) – Center for Budget Analysis (CBA) bersama Kajian dan Analisa Keterbukaan Informasi Publik (KAKI Publik), melaporkan adanya dugaan dua kasus korupsi di wilayah Kota Bekasi ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bekasi, Senin (16/4).

Koordinator Investigasi CBA, Jajang Nurjaman mengatakan, temuan pertama adalah tiga proyek di bawah tanggungjawab Kelompok Kerja B Barang/Jasa Bagian Fasilitasi Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Kota Bekasi Tahun Anggaran 2018.

Untuk Pembangunan Flyover Cipendawa (Bantuan DKI/Kemitraan/Luncuran). Untuk Jasa Konsultansi menghabiskan anggaran sebesar Rp721.772.000. Untuk konstruksi  sebesar Rp91.819.350.000. Pemenang PT. Modern Widya Tehnical Graha Multi Modern yang beralamat di Cikini, Jakarta Pusat.

Kemudian Pembangunan Flyover Rawa Panjang (Bantuan DKI/Kemitraan/Luncuran) untuk Jasa Konsultansi menghabiskan anggaran sebesar Rp721.772.000. Untuk konstruksi  sebesar Rp78.051.670.000. Pemenang PT. Intan Cipta Perdana beralamat di Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Lalu Pembangunan Flyover Rawa Panjang (Bantuan DKI/Kemitraan/Luncuran). Untuk Jasa Konsultansi menghabiskan anggaran sebesar Rp651.766.000. Sedangkan untuk konstruksi  sebesar Rp25.219.500.000. Pemenang PT. Putra Nanggroe Aceh beralamat di Aceh Jaya Kabupaten Aceh.

“Secara keseluruhan ketiga proyek di atas, untuk jasa konsultansu dan konstruksi dari anggaran yang disiapkan sebesar Rp211.441.025.000. Anggaran yang dihabiskan sebesar Rp197.185.830.000,” ujar jajang.

Center for Budget Analysis kata dia menemukan kejanggalan dalam proses lelang tiga proyek di atas, pertama ada dugaan lelang tidak normal. Terindikasi dugaan pengaturan yang terlihat dari persyaratan kualifikasi guna memenangkan perusahaan tertentu.

Menurutnya, hal ini sama saja Pemda Kota Bekasi “mengunci” dalam persyaratan agar perusahaan tertentu memenangkan lelang. Dan kuncian tersebut adalah bagi perusahaan yang tidak menyampaikan pengalaman pengadaan dan pemasangan gelagar pracetak panjang minimal 40-50 M selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir, maka dinyatakan gugur”.

“Untuk saat ini pihak Pemda Kota Bekasi sudah menetapkan pemenang tiga proyek di atas, dalam proses lelang sendiri CBA menemukan kejanggalan lain. Dimana perusahaan yang menang nilai kontraknya sangat tidak wajar (terlalu mahal), sedangkan perusahaan dengan tawaran harga murah justru digugurkan,” katanya.

Misalnya dalam proyek Pembangunan Flyover Cipendawa dimenangkan oleh PT. Modern Widya Tehnical Graha Multi Modern dengan tawaran sebesar Rp91.819.350.000. Padahal ada tawaran yang lebih ekonomis senilai Rp83.076.401.000 dari PT. Multi Structure. Selisihnya cukup jauh sebesar Rp8,7 miliar.

“Bahkan untuk ketiga proyek di atas, CBA menghitung ada potensi kebocoran anggaran sebesar Rp30,2 miliar. Hal ini disebabkan nilai proyek yang disepakati Pemda Kota Bekasi dengan pemenang proyek amat mahal, dan mengesampingkan tawaran yang lebih ekonomis,” tuturnya. (red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here