Disdik Kota Sukabumi, Klaim PPDB SMP 90 Persen Sesuai Zonasi

1

SUKABUMI (Garudanews.id) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Sukabumi mengklaim, untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP, 90 persen sudah melalui sistem zonasi atau jarak rumah dengan sekolah, menjadi prioritas calon siswa untuk diterima.

“Ini berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 14 Tahun 2018 tentang PPDB, dimana disebutkan yang menjadi kriteria utama dalam penerimaan siswa baru adalah jarak sesuai dengan ketentuan zonasi,” tegas Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas P dan K Kota Sukabumi, Dikdik Kristiana kepada garudanews.id, Senin (4/6).

Dikdik Kristiana menjelaskan, dasar penerimaan masuk SMP dibagi menjadi sebanyak 90 persen zonasi murni dan lima persen untuk jalur prestasi dan lima persen lagi untuk anak pindahan atau terjadi bencana alam atau sosial.

“Untuk Zonasi murni, ditentukan dengan peserta didik baru memilih sekolah dengan jarak paling dekat dari rumah ke sekolah,” tuturnya.

Sementara kata Dikdik, zonasi prestasi ditentukan adanya tambahan nilai prestasi yang menunjang. Misalnya saja, Olimpiade Siswa Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festifal Literasi Seni Nasional (FLSN).

“Untuk kuota SMP dan SD Negeri di Kota Sukabumi sendiri sekitar 5.000 pelajar,” jelas Dikdik.

Dikdik menambahkan, sekolah yang diselenggarakan pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat minimal 90 persen dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

“Jumlah sekolah di Kota Sukabumi sebanyam 28 swasta dan 16 negeri. Memang lebih banyak sekolah swasta dibandingkan dengan negeri sehingga untuk PPDB ini ada pembagiannya,” ujarnya.

Menurutnya, pembagian tersebut guna pemerataan pendidikan sehingga tidak ada lagi istilah sekolah elit ataupun unggulan.

“Jika keberadaan rumah calon peserta didik berada dengan jarak pertama lima kilometer maka akan langsung dapat diterima. Jarak ke dua, 10 kilometer,” tuturnya.

Tak hanya itu sambung dia, sekolah juga tidak boleh membedakan calon peserta didik. Sekolah harus bisa menerima calon peserta didik yang menyandang difabel.
“Ya, sekolah terdekat juga wajib menerima penyandang difabel. Sehingga, tidak membedabedakan,” pungkasnya. (ded).

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.