Ekonomi Lesu,  Sejumlah Pedagang Terancam Gulung Tikar

0
144
Ilustrasi (ist)

JAKARTA (Garudanews.id) – Jelang akhir jabatan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) masyarakat mulai merasakan betapa sulitnya ekonomi.

Bahkan,  berdasarkan pantauan media di beberapa pusat perbelanjaan baik itu pasar modern maupun pasar tradisional,  para pedagang mulai mengeluhkan pendapatan mereka turun drastis dalam kurun waktu satu tahun belakangan ini.

Salah satunya dikemukakan,  Yanti,  pedagang pakaian di pasar tradisional Klender, Jakarta Timur. Ia mengaku jualannya sepi dalam satu tahun belakangan ini.  Bahkan,  untuk operasional saja tidak menutupi.

“Biasanya saya dalam satu hari bisa menjual sepuluh hingga lima belas potong pakaian.  Tapi sekarang tiga potong pakaian saja sudah bagus.  Lesunya penjualan ini bukan dirasakan saya saja,  tapi hampir pedagang di sini rata merasakan sepi pengunjung,” keluhnya kepada garudanews.id, Kamis,  (12/7) malam.

Senada dengan Yanti,  Asep, pedagang maenan di salah satu pusat perbelanjaan di Sentul Bogor juga merasakan sepinya pengunjung.

“Bahkan saya sudah merasakan sepi sudah dua tahun belakangan ini.  Mungkin bulan depan kami tutup dulu hingga perekonomian kembali pulih.  Untuk sementara cari pekerjaan lain untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari,” tandasnya.

Menyikapi persoalan tersebut, pengamat ekonomi dari Nasional Corruption Watch (NCW)  Martin Luther menilai perputaran keuangan di era pemerintahan Jokowi hanya sampai pada level atas saja.  Bahkan pembangunan infrastruktur yang saat ini terus di genjot oleh pemerintahan dinilai tidak berdampak kepada pertumbuhan ekonomi.

“Jadi wajar saja,  masyarakat hari ini menjerit.  Tapi di sisi lain pemerintah klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat.  Menurut kami,  sudahilah rezim sekarang dalam melakukan pencitraan di media.  Masyarakat sudah menjerit,” tegas Martin.

Menurut Martin,  persoalan ekonomi adalah barometer keberhasilan pemerintahan.

“Buat apa membangun infrastruktur dengan dengan hutang luar negeri,  sementara masyarakatnya kelaparan.  Kita harusnya belajar dari sejarah masa lalu,” katanya.

Bahkan lanjut Martin,  para pendiri bangsa ini mencontohkan,  yakni bangun jiwanya dulu bagu membangun raganya.

“Artinya mentalnya dulu yang di bangun oleh pemerintah.  Buat apa gagasan revolusi mental itu ada.  Tapi kenyataannya malah lebih mementingkan pembangunan infrastruktur yang tidak berdampak pada perekonomian rakyat.  Bahkan kami menilai pembangunan infrastruktur dengan modal hutang hanya mengakomodir kelompok tertentu untuk mendapatkan proyek,” tegasnya.

Untuk itu pihaknya mendesak kepada pemerintahan Jokowi segera memulihkan carut marutnya ekonomi. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here