Gagas Tolak Jokowi, Pengamat Ini Sebut SBP Gagal Argumentasi

0
554
Pakar komunikasi politik, Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing. (Foto: dok.garudanews.id)

JAKARTA (Garudanews.id) – Aktivis yang juga politisi senior ini kerap kali mengeluarkan pandangan efek “kejut”, karena memposisikan pemikirannya selalu ada “di seberang”. Dialah Sri Bintang Pamungkas atau yang sering disapa SBP.

Namun sayang pemikirannya acap kali menimbulkan kontriversi ditengah masyarakat. Bahkan terkesan membingungkan, sejumlah pihak pun menilai gaya pemikiran SBP amat sulit diterima akal sehat, apalagi untuk dipercaya publik. Bahkan bisa gagal argumentasi.

“Pemikiran semacam ini, memang bisa saja muncul dalam suatu sistem demokrasi sebagai suatu anti tesis terhadap penyelenggaraan pemerintahan suatu negara yang sedang berjalan,” ungkap pakar komunikasi politik, Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing, seperti dalam keterangan tertulisnya yang diterima garudanees.id, Minggu, (11/3).

Hanya saja, pandangan SBP mengagas tolak JKW lebih berbasis subyektif, yaitu sudah terlebih dahulu memposisikan pemikirannya pada wilayah sepakat untuk tidak sepakat.

Sehingga argumentasi yang dibangun tidak didukung oleh sajian data yang lengkap, tidak disertai analisis mendalam dan apalagi tidak menarasikan pembahasan yang berbasis pada konsep, teori dan alur pikir yang konprehenship. Inilah saya sebut sebagai “gagal argumentasi”.

Dengan demikian, gagasan gerakan tolak Jokowi hanya untuk kepentingan politik subyektif orang yang bersangkutan atau kelompok kepentingan lainnya yang ingin berkuasa dengan pragmatis.

“Dengan kata lain, belum cukup kuat data, bukti dan argumentasi yang disajikan SBP, bahwa pandangannya tersebut bertujuan untuk keselamatan bangsa,” kata direktur eksekutif EmrusCorner ini.

Menurutnya, SBP menggagas gerakan tolak Jokowi menjadi presiden pada pilpres 2019 dengan sajian data sangat lemah. Bahkan SBP menyebut gerakan ini untuk menyelamatkan bangsa tanpa disertai argumentasi yang kuat.

Jadi, gagasan ini sangat miskin data dan argumentasi yang dibangun pun lemah dan sangat subyektif karena sama sekali mengesampingkan kinerja atau capaian pemerintahan Jokowi dalam berbagai sektor kehidupan sosial berbangsa dan bernegara.

“Misalnya, SBP tampaknya menutup mata untuk tidak melihat pembangunan sejumlah infrastruktur yang sedang berlangsung di seluruh tanah air,” ujarnya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here