Gas Elpiji 3 kg Langka, Pemerintah Harus Bertanggungjawab Atas Kebijakan Konversi

0
140
Gas Bright dan Blue Gas.

BOGOR (Garudanews.id) – Gas elpiji 3 kg yang mengalami kelangkaan selama 1 pekan, pihak pemerintah seharusnya bertanggungjawab atas kebijakan konversi minyak tanah ke gas dengan cara menyediakan stok gas yang cukup.

“Sudah hampir seminggu kami mencari gas tapi tidak ada, terpaksa kami memasak pakai kayu bakar.  Atas kejadian ini seharusnya pemerintah konsekuen dengan kebijakan terdahulu,”ungkap warga Ciawi Iis (53) kepada garudanews.id, Rabu (6/12).

Iis mengakui, sangat kesulitan mendapati gas elpiji 3 kg di setiap agen penjual gas. Tak terkecuali di SPBU terdekat.

“Saya sudah beberapa kali ke semua agen gas tapi semua bilang kosong,”tukasnya.

Iis berharap, pemerintah harus bertanggungjawab atas kebijakan konversi minyak tanah ke gas dengan menyediakan stok gas yang cukup. “Dahulu kita pakai minyak tanah di paksa ganti ke gas, dan sekarang gasnya langka, seyogyanya jangan sampai terjadi seperti ini,”tuturnya.

Sementara, salah satu agen di kawasan Ciawi, Dini (51) menjelaskan, kelangkaan gas sudah terjadi sejak dua minggu lalu. Menurut Dini, kelangkaan akibat pengurangan stok gas dari pusat. “Pada waktu itu, saya pernah tanya ke SPBE katanya stoknya sedang dikurangi, makanya mulai langka,”katanya.

Kata Dini, sementara stok dikurangi sedangkan permintaan masyarakat tidak berkurang. “Sehingga tidak sedikit warga yang kembali menggunakan kayu bakar untuk masak,”ucap Dini.

Selain adanya pengurangan stok gas 3 kg yang bersubsidi, informasi yang didapat Dini, pemerintah sengaja mengurangi stok gas melon untuk mengupayakan Bright Gas 5,5 kg dapat diterima masyarakat.”Katanya sih nanti gas subsidi 3 kg mau dihapus, diganti dengan ukuran 5,5 kg,”jelasnya. (ded)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here