Harga Kebutuhan Pokok Mulai Meroket, Pemerintah Perlu Belajar Pada Petani Timun Suri

0
307
Ketua Umum Apegti Usman Almuthahar. (Foto: mhd/garudanews.id)

BANDUNG (Garudanews.id) – Menjelang bulan suci Ramadhan, sejumlah harga kebutuhan bahan pokok di sejumlah daerah sudah mulai merangkak naik. Banyak teori mengatakan bahwa kenaikan harga tersebut dipicu oleh tingginya permintaan pasar. Sementara, bulan Ramadhan saja baru masuk dalam beberapa hari kedepan. Hal inilah seharusnya menjadi perhatian pemerintah pusat agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

Pengamat ekonomi Usman Almuthahar mengatakan, persoalan kenaikan harga jelang Ramadhan sudah menjadi isu yang biasa. Namun sayangnya antisipasi adanya kenaikan harga sejumlah komuditas bahan pokok itu dinilai kurang mendapatkan perhatian.

“Seharusnya pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian dari enam bulan yang lalu sudah mulai memetakan potensi kenaikan harga komoditas bahan pokok mana saja yang bakal diprediksi naik,” ujar Usman kepada garudanews.id, sabtu, (5/5).

Selanjutnya, kata Usman, kedua Kementerian tersebut menggenjot  produksi. Sehingga saat bulan Ramadhan tiba tidak terjadi gejolak harga di pasar.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) ini juga  mengatakan, menteri yang terkait dengan persoalan pangan di saat Ramadhan jangan sampai kalah dengan program petani timun suri.

“Saudara-saudara kita yang bercocok tanam timun suri tahu betul, kapan dia harus menanam, dan kapan dia harus penen dan dijual ke pasaran. Maka, saat bulan Ramadhan tiba masyarakat tidak susah-suasah lagi cari timun suri, karena itu merupakan makanan pavorit saat buka puasa. Artinya petani kecil saja memiliki progres yang jelas, seharusnya menteri memiliki program lebih bagus. Sehingga masyarakat merasa tenang saat menunaikan ibadahnya, dan merasakan pemerintah hadir,” ujar Usman.

Terpisah, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta seluruh pedagang di pasar tradisional untuk menjual beras medium sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yakni sebesar Rp9.540/kg.

“Jadi sekali lagi pedagang beras di pasar tradisional wajib menyediakan dan menjual beras medium dengan HET,” kata Mendag saat melakukan sidak ke Pasar Andir, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu.

Enggar mengatakan, stok beras masih mencukupi kebutuhan baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat melalui Bulog.

Meski begitu, pemerintah tetap akan menggelontorkan stok cadangan baik lokal maupun eks-impor untuk memantapkan stabilitas harga hingga lebaran.

“Yang pasti akhir tahun tetap kami jamin. Jadi kami akan siapkan apakah beras itu serapan dalam negeri itu tentu jadi prioritas, ataukah juga eks-impor akan kami siapkan akan kami dorong,” kata dia.

Selain itu, kata dia, Bulog juga siap menggelar operasi pasar apabila harga sewaktu-waktu melonjak dengan tajam. Sebagai bentuk antisipasi dini, melalui Satgas Pangan daerah, akan terus memantau harga di setiap pasar.

Langkah persuasif akan dilakukan jika tim menemukan pedagang yang menjual harga kebutuhan pokok tidak sesuai dengan ketentuan pemerintah.

“Seperti tadi, ada yang jual beras premium Rp13.000 per kg, langsung sama bu Dirjen diturunkan jadi Rp12.800. Tapi pedagang juga bilang masih bisa ditawar,” kata dia.

Ia pun mengingatkan para pedagang tidak bermain harga karena Satgas Pangan yang terdiri atas kepolisian, Dinas Perdagangan, Ketahanan Pangan, dan Bulog daerah siap menindak tegas.

“Saya apresiasi langkah Polda Jabar, detail semua alamat dan tahu semua pemain-pemain itu. Dilakukan persuasi agar mereka jangan main-main,” kata dia. (Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here