Harga Minyak Turun, Brent Jadi 75,47 Dolar

0
98

NEW YORK (Garudanews.id) – Harga minyak turun pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) dan membukukan kinerja bulanan terburuk sejak pertengahan 2016, dipicu petunjuk meningkatnya pasokan minyak mentah global, tetapi kerugian dibatasi oleh tanda-tanda permintaan bahan bakar AS yang kuat.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk penyerahan Desember yang kadaluwarsa pada Rabu (31/10), turun 44 sen AS menjadi 75,47 dolar AS per barel. Kontrak Januari yang lebih aktif turun 91 sen AS menjadi 75,04 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Desember, turun 87 sen AS menjadi 65,31 dolar AS per barel.

Kedua patokan berada lebih dari 10 dolar AS per barel di bawah tertinggi empat tahun yang dicapai pada 3 Oktober. Keduanya mencatat kinerja bulanan terburuk mereka sejak Juli 2016, dengan Brent jatuh 8,8 persen dan WTI turun 10,9 persen selama Oktober.

Sentimen investor di seluruh kelas aset-aset berisiko, seperti ekuitas dan energi, berbalik negatif selama bulan ini karena ketegangan perdagangan AS-China memicu kekhawatiran permintaan.

Penekan sentimen pasar pada Rabu (31/10) adalah tanda-tanda meningkatnya pasokan global. Produksi minyak mentah AS melonjak 416.000 barel per hari (bph) ke rekor 11,346 juta barel per hari pada Agustus, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan.

Amerika Serikat dan produsen utama lainnya Rusia dan Arab Saudi memproduksi 33 juta barel per hari pada September, data Refinitiv menunjukkan, peningkatan 10 juta barel per hari sejak awal dekade ini.

Produksi minyak Rusia telah mencapai 11,41 juta barel per hari pada Oktober, tingkat yang tidak terlihat sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991, sebuah sumber industri mengatakan kepada Reuters.

Kenaikan produksi datang tepat sebelum sanksi-sanki baru AS terhadap Iran, yang akan mulai berlaku pada 4 November, yang diperkirakan akan mengurangi pasokan.

“Ada persepsi bahwa ada cukup minyak di pasar saat ini untuk mengatasi (kekurangan) sanksi-sanksi Iran,” kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group di Chicago.

Washington telah menjelaskan kepada para pelanggan Teheran bahwa pihaknya meminta mereka untuk berhenti membeli minyak mentah Iran dari tanggal tersebut.

Namun, pada Rabu, penasehat keamanan nasional AS John Bolton mengatakan bahwa sementara Amerika Serikat ingin menerapkan tekanan maksimum pada Iran dengan sanksi atas ekspor minyak mentahnya, negara itu tidak ingin merugikan negara-negara yang merupakan teman dan sekutu yang bergantung pada minyak.

Impor minyak mentah Iran oleh pembeli-pembeli utama di Asia mencapai terendah dalam 32-bulan pada September, karena China, Korea Selatan dan Jepang secara tajam mengurangi pembelian mereka menjelang sanksi, pemerintah dan data pelacakan kapal menunjukkan.

Pada awal sesi, harga minyak naik setelah Badan Informasi Energi AS mengatakan persediaan minyak mentah naik 3,2 juta barel pekan lalu, kurang dari yang diperkirakan. Stok bensin dan distilasi turun karena total permintaan produk selama empat minggu terakhir naik 5,4 persen dari setahun lalu.

“Bullish penarikan produk-produk (minyak) telah bertindak sebagai penyeimbang terhadap sentimen bearish,” kata Matt Smith, direktur riset komoditas di ClipperData.

Sentimen pasar minyak menerima beberapa dukungan dari pasar ekuitas, yang mundur dari posisi terendah 20-bulan setelah dijanjikan oleh China untuk mendukung pasar-pasarnya.

Ekuitas berada di bawah tekanan dari perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat dan China. Amerika Serikat telah mengenakan tarif atas barang-barang China senilai 250 miliar dan China telah menanggapi dengan tarif pembalasan atas barang-barang AS senilai 110 miliar dolar AS. (Ant/Sfa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here