Hasil Survei IDM Elektabikitas Jokowi-Marup Melorot,  Inilah Penyebabnya

0
125
Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto (tengah) dan Sandiaga Uno (kanan) berfoto dengan Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono seusai mendaftarkan dirinya di gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8). Prabowo-Sandi mendaftarkan dirinya ke KPU sebagai pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024. (Foto: Ant)

JAKARTA (Garudanews.id)  – Elektabilitas pasangan Capres-Cawapres Jokowi dan Ma’aruf Amin kian melorot. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor termasuk ekonomi.

Hal ini diketahui bahwa hampir 70% pemilih Jokowi pada Pilpres 2014 lalu, dikarenakan adanya keinginan kehidupan ekonomi responden lebih baik atau meningkat dibandingkan pada masa sebelumnya. Namun saat ini yang terjadi justru sebaliknya.

Melorotnya elektabilitas Jokowi-Ma’aruf ini diketahui dari hasil survei yang dilakukan oleh IDM pada tanggal 8 – 21 Oktober 2018, dengan responden 2.178 yang tersebar di 33 Provinsi dengan Margin of Error sebesar -+ 2,1% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Dalam temuan survei IDM ini, 38.9% responden mengatakan kondisi ekonomi saat ini mengalami penurunan. Hanya 12.7% saja responden yang mengatakan mengalami peningkatan ekonomi.

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif IDM, Bin Firman Tresnadi kepada wartawan, Senin di Jakarta, (30/10).

“Dari survei ini yang mengatakan kondisi ekonomi stabil hanya sekitar 48,4%. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional selama 4 tahun pemerintahan Jokowi yang berkisar antara 4,8% – 5% saja,” ujarnya.

Kondisi pertumbuhan ekonomi ini, kata dia, tentu saja berimbas kepada lapangan kerja di masyarakat.

“Dalam temuan survei, 64,6% responden menyatakan selama 4 tahun terakhir sangat sulit mencari pekerjaan. 31,2% mengatakan ada lapangan kerja tapi banyak yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikan ataupun keahlian yang dimiliki masyarakat. Dan sebanyak 4,2% menyatakan tersedia lapangan kerja,” tegasnya.

Dia melanjutkan, pertumbuhan ekonomi yang hanya berkisar di 4,8% – 5% juga tidak memberikan tambahan lapangan kerja baru bagi angkatan pekerja baru.

“Karena tidak tertampungnya angkatan kerja baru ini maka pekerjaan di sektor informal menjadi pilihan, seperti driver atau ojek online dan lainya. Hal yang penting diketahui adalah hampir 40% tenaga kerja Indonesia saat ini bekerja disektor informal. Dimana jaminan keamanan rendah dan jaminan sosial yang tidak memadai,” tandasnya.

Elektabilitas Jokowi menurun juga karena tidak bisa memenuhi janji-janjinya, seperti soal Swasembada Pangan.

“Sebanyak 71,8% responden mengatakan gagal. Begitu juga dalam hal pemerintahan bersih (bebas korupsi), sebanyak 62,1% responden menyatakan Jokowi tidak berhasil memberantas korupsi. Sikap responden ini didorong karena responden menilai masih banyaknya pejabat publik yang terjerat oleh KPK,” tukas dia.

Sementara itu, berdasrkan survei tersebut, justru elektabilitas Prabowo yang mengalami trend kenaikan yang cukup signifikan.

Hal ini menurut para responden, seperti dilansir laman teropongsenayan,  naiknya elektabikitas pasangan nomor urut dua itu disebabkan faktor Sandiaga Uno yang memiliki daya tarik terhadap pemilih milineal dan dianggap lebih mengakomodir berbagai berbagai golongan, baik suku maupun agama.

“Dari tingginya tingkat elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi mengalahkan Jokowi- Maruf, menggambarkan adanya harapan besar akan adanya perbaikan sektor ekonomi nasional, terutama responden yang percaya bahwa Sandiaga Uno sebagai seorang pengusaha muda yang berhasil akan mampu memberikan perbaikan di sektor bisnis dan UKM,” papar dia.

Harapan responden tentunya kata dia, jika Prabowo-Sandi terpilih akan memberikan dampak peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat, sehingga kehidupan ekonomi mereka membaik dibandingkan keadaan saat ini.

“Tingginya pilihan pada  pemilih milenial terhadap Prabowo-Sandi hingga 60,1% dibandingkan Jokowi-Ma’aruf yang hanya 31,7%, dikarenakan sosok Sandi yang lebih mewakili pemilih milenial yang  creative (kreatif), confidence (percaya diri) dan connected (terhubung satu sama lain) dibandingkan Jokowi maupun Ma’aruf Amin. Hal ini tak terlepas dari kesukaan Sandi terhadap olah raga, music/film dan teknologi informasi yang merupakan ciri khas generasi milineal,” pungkasnya.

Berikut ini elektabilitas pasangan Capres-Cawapres berdasarkan demografi responden:

41,2% Responden Milineal (usia 17 – 25 tahun) = (897 responden): Jokowi-Ma’aruf : 31,7% (284 responden), Prabowo-Sandi : 60,1% (539 responden), Tidak Memilih : 8,2% (74 responden).

21,4% Responden Ibu Rumah Tangga (466 responden), Jokowi-Ma’aruf : 33,3% (155 responden), Prabowo-Sandi : 58,1% (271 responden), Tidak Memilih : 8,6% (40 responden).

37,4% Responden Kepala Keluarga (815 responden), Jokowi-Ma’aruf : 41,2 % (336 responden), Prabowo-Sandi : 51,1% (416 responden), Tidak Memilih : 7,7% (63 responden).

Total Elektabilitas:

Jokowi-Ma’aruf : 35,58 %

Prabowo-Sandi : 56,39 %

Tidak Memilih : 8,13 %. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here