Ilmuwan Temukan Tiga Sel Saraf Baru di Telinga Manusia

0
63
Ilustrasi sel saraf (ist)

STOCKHOLM (Garudanews.id) – Para peneliti di Karolinska Institutet, Stockholm, Swedia telah mengidentifikasi empat jenis sel saraf (neuron) dalam sistem pendengaran perifer. Hebatnya, tiga di antaranya diklaim baru bagi dunia kedokteran.

“Kami sekarang tahu bahwa ada tiga rute yang berbeda ke dalam sistem pendengaran pusat, bukan hanya satu,” kata Francois Lallemend, pemimpin kelompok penelitian di Departemen Neuroscience, Karolinska Institutet, yang memimpin penelitian tersebut seperti dikutip situs sciencedaily.com (12/9).

“Ini membuat kita lebih baik ditempatkan untuk memahami bagian yang dimainkan oleh neuron yang berbeda dalam pendengaran. Kami juga memetakan gen mana yang aktif dalam jenis sel masing-masing orang,” imbuhnya.

Tim di bawah pimpinan Lallemend, melakukan riset mereka pada tikus menggunakan teknik yang relatif baru dari sekuensing RNA sel tunggal. Hasilnya, ditemukan sejumlah katalog gen yang diekspresikan dalam sel-sel saraf di telinga.

Dalam proses pendengaran, ketika suara mencapai telinga bagian dalam, suara itu diubah menjadi sinyal listrik yang diteruskan ke otak melalui sel-sel saraf telinga di koklea (rumah siput di telinga).

Sebelumnya, peneliti menganggap sebagian besar sel-sel ini dianggap dari dua jenis: neuron tipe 1 dan tipe 2. Neuron tipe 1 berperan sebagai transmisi sebagian besar informasi pendengaran.

Namun studi yang digarap tim Lallemend, menunjukkan bahwa sel-sel neuron tipe 1 itu sebenarnya terdiri dari tiga jenis sel yang sangat berbeda.

Studi tersebut menunjukkan bahwa ketiga jenis neuron ini mungkin memainkan peran dalam penguraian intensitas sonik (volume), fungsi yang sangat penting selama percakapan dalam ruangan yang bising. Neuron baru ini berperan menyaring kebisingan. Studi ini dipublikasikan di Nature Communications.

Sifat ini juga penting untuk menentukan berbagai bentuk gangguan pendengaran, seperti penyakit tinnitus atau hyperacusis (gangguan kepekaan berlebihan terhadap suara).

Menurut Lallement, analisis sel-sel ini dapat memengaruhi terapi baru untuk berbagai jenis gangguan pendengaran. “Begitu kita tahu neuron mana yang menyebabkan hyperacusis kita akan dapat mulai menyelidiki terapi baru untuk melindungi atau memperbaikinya,” jelasnya.

“Langkah selanjutnya adalah untuk menunjukkan apa efek yang dimiliki sel-sel saraf individu pada sistem pendengaran, yang dapat mengarah pada pengembangan alat bantu pendengaran yang lebih baik seperti implan koklea.” (Gtr/Lya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here