Inilah Upaya Pemerintah Dalam Menekan Harga Telur dan Daging

0
165
Acara lokakarya yang bertema “Menjaga Stabilitas Harga Telur dan Daging Ayam di Pasar; Seperti Apa Solusinya?” di salah satu Hotel di Jakarta Selatan, Kamis, (9/8).

JAKARTA (Garudanews.id) – Guna menjaga stabilis  harga telur dan daging di pasaran, pemerintah terus berupaya mencari solusi agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.

Untuk itu, Kementerian Pertanian berhasil membuat  terobosan. Diantaranya adalah melakukan pengawasan dengan menugaskan 150 orang yang tersebar di 15 provinsi untuk menggali informasi terkait fluktuasi harga telur dan daging tersebut.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian,  Ir. Fini Murfiani, mengatakan upaya yang dilakukannya dinilai cukup berhasil. Sehingga harga dua komuditas tersebut dapat terkendali.

Bahkan, stok telur dan daging ayam broiler pada tahun 2018 surplus. “Daging surplus 331.085 ton dan telur surplus 795.932 ton,” ujar Fini dalam Lokakarya yang bertema “Menjaga Stabilitas Harga Telur dab Daging Ayam di Pasar; Seperti Apa Solusinya?” di salah satu Hotel di Jakarta Selatan, Kamis, (9/8).

Fini menjelaskan, minggu pertama bulan Agustus 2018 harga daging ayam broiler dan harga telur ayam sudah mengalami penurunan.

“Untuk harga daging, dari produsen 1.57%, dan pada tingkat  konsumen : 0.35%. Kemudian harga telur pada tingkat produsen : 4.39%, di konsumen : 3.90%,” jelasnya.

Adapun upaya yang telah dilakukannya, kata Fini, pihak  Kementerian Pertanian melakukan koordinasi dengan kementerian terkait. Selanjutnya melakukan pemantauan ke lapangan untuk mengidentifikasi masalah, hal itu dilakukan guna menjaga HPP pada dua komuditas tersebut.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Ir. Kudhori mengatakan kenaikan harga daging dan telur ayam penyunbang inflasi 50% pada bulan Juli 2018, meski hal itu tidak berdampak signifikan.

Menurutnya, ada 2 akar persoalan di industri perunggasan.  Pertama ketergantungan impor GGPS, GPS, dan PS maupun pakan. Seperti bungkil jagung  dan kedelai. Dan yang kedua struktur industri perunggasan tidak berimbang.

Untuk itu, pihaknya mendesak pemerintah agar membenahi data. Dimana oversupply daging ayam 2016-2017 terjadi akibat impor berlebihan untuk  GGPS/GPS sementara, pada 2013-2014 Impor dikarenakan  adanya overestimasi perhitungan permintaan. “Selain itu, harus memastikan ketersediaan jagung, baik dari produksi domestik maupun impor,” katanya.  (Wan)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here