Jelang Pilkada, Ujaran Kebencian Kerap Dijadikan Senjata Menyerang Lawan

0
295
Pengamat politik dan kebijakan publik, Igor Dirgantara. (Foto: Ist)

BEKASI (Garudanews.id) – Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)  serentak 2018, suhu politik di sejumlah daerah mulai memanas.

Salah satu pemicunya adalah karena adanya gesekan di media sosial,  sehingga tidak sedikit bergulir ke ranah hukum.

Selain itu,  sejumlah elit politik masih mengedepankan emosional sesaat dalam menarik simpati pendukungnya.  Maka,  terkadang acapkali membuat blunder pada calon pessrta pilkada itu sendiri. Sentemen agama atau ujaran kebencian kepada kelompok tertentu jadi senjata sebagian Paslon untuk menjatuhkan lawannya.

Menyikapi dinamika politik yang berkembang di sejumlah daerah jelang Pilkada serentak ini,  pengamat politik Universitas Jayabaya,  Igor Dirgantara mengatakan,   bahwa dalam kompetisi Pilkada yang ketat, isu sentimen agama banyak digunakan.

Namun, semua pihak hendaknya menelusuri kebenaran sebuah informasi tersebut terlebih dahulu.

“Kebenaran informasi harus dikedepankan, KPU, Bawaslu dan kepolisian harus menindak dengan tegas jika memang informasi tersebut benar, kepolisian diharapkan tidak pandang bulu dalam menindak,” kata Igor kepada garudanews.id, Sabtu,  (5/5).

Igor menambahkan bahwa hastag di mesia sosial sering kali dijadikan senjata untuk kepentingan politik, atau untuk menguntungkan pihak tertentu.

“Pertarungan ketat dalam merebut kekuasaan, dalam konteks pilkada. Oleh karena itu, diperlukan strategi-strategi yang bisa meningkatkan elektabilitasnya, namun juga dapat menurunkan elektabilitas lawan,” tambahnya.

“Salah satu caranya adalah ujaran kebencian, namun has tag juga dapat menguntungkan pihak yang menyebar,” lanjutnya

Ia juga meminta kepada masyarakat untuk jeli dalam menggali informasi. Ia memberikan contoh pilkada DKI yang juga tidak lepas dari isu sentimen agama dalam perhelatannya. (Mam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here