Jelang Pilpres 2019, Koalisi Partai Terancam Bubar

0
126
Anggota DPR RI Fahri Hamzah saat menanggapi koalisi Partai Gerindra dan Demokrat usai Ngopi Bareng Fahri, Ngopi Ngobrol Ngetwit "Kaum Milenial, Arah Baru Indonesia" di Bekasi, Jumat malam (13/7).

BEKASI (Garudanews.id) – Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang kondisi partai baik itu pendukung penguasa maupun sebagai oposisi dinilai tidak memiliki platform yang jelas, bahkan terkesan rumit. Hal tersebut ditegtaskan Anggota DPR RI Fraksi PKS Fahri Hamzah menanggapi koalisi Partai Gerindra dan Demokrat usai Ngopi Bareng Fahri, Ngopi Ngobrol Ngetwit “Kaum Milenial, Arah Baru Indonesia” di Bekasi, Jumat malam (13/7).

“Saya punya prediksi koalisi akan terbentuk tanggal 9 dan 10 Agustus. Karena dari platform ini rumit. Apalagi tidak ada kesepakatan dari Mahkamah Konstitusi (MK). Jika MA ‘melahirkan’ keputusan 0 persen, maka koalisi akan bubar,” kata Fahri.

Lanjut Fahri, nantinya akan terbentuk koalisi baru. Bahkan akan banyak calon presiden yang bermunculan.

“Saya berfikir bahwa trend nya akan ke arah sana. Dan itu positif bagi perkembangan suasana pemilihan yang demokrasi,” ujarnya.

Fahri juga menanggapi terkait penantang Jokowi yang memiliki dilema. Karena selama ini tidak terlalu menonjol narasi alternatifnya.

“Bahkan narasi yang dimunculkan dilematis. Jadi istilahnya ‘be two extrims’, ada dua ekstrim yang sepertinya tidak ketemu,” katanya.

Fahri memiliki tesis bahwa nantinya yang muncul dipermukaan adalah poros baru (tengah) yang dilihat publik lebih merupakan alternatif dari dua konflik tersebut.

“Itu bisa jadi kalau 20 persen oleh MK. Tetapi kalau tidak, koalisinya akan bubar. Itu akan terbentuk banyak calon yang maju seperti Pak Yusril dan Hendropriyono,” jelasnya.

Lanjut Fahri, calon itu hanya cukup mengambil wakilnya, dan dua orang bisa mendaftar.

“Otomatis itu, tidak terlalu sulit,” katanya.

Tak menampik, PKS juga akan kesulitan dalam menentukan koalisi dengan Gerindra. Sebab, Gerindra memiliki kalkulasi menang atau tidak.

“Dia juga ga mau koalisi kalau kalah. Karena ini ‘sudden dead’. Artinya, kalau bisa dua poros kan, langsung kalah,” pungkasnya. (Dhr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here