Kasus Ratna Sarumpaet Mencuat Ditengah Ambruknya Nilai Tukar Rupiah

0
145
Ilustrasi (Ist)

JAKARTA (Garudanews.id) – Santernya pemberitaan mengenai kasus penyataan aktivis perempuan Ratna Sarumpaet yang menyedot perhatian publik seakan melupakan terhadap terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.  Dimana  pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,03 persen di level Rp 15.184 per dolar AS.

Sehari sebelumnya, kurs rupiah di pasar spot terkoreksi 0,69 persen ke level Rp 15.179 per dolar AS. Artinya, dalam sepekan ini rupiah sudah terkoreksi 1,88 persen. Sementara rupiah di kurs tengah versi Bank Indonesia (BI) kemarin tercatat melemah 0,32 persen menjadi Rp 15.182 per dollar AS. Tidak berbeda jauh dibanding pasar spot, dalam sepekan rupiah juga terkoreksi 1,70 persen.

Publik diminta cermat dalam menyikapi penggiringan opini pada tahun politik. Dimana, ditengah publikasi oleh salah satu lembaga survei,  terkait dengan elektabilitas kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden, kondisi ekonomi dalam negeri saat ini terus terpuruk.

“Kita tidak boleh tertipu dengan dinamika penggiringan opini dengan obyek yang tidak ada kaitanya dengan persoalan ekonomi bangsa. Sebenarnya, kasus Ratna Sarumpaet bagi mayoritas rakyat Indonesaia tidaklah memiliki dampak apapun. Apalagi, Indonesia saat ini dalam keadaan berduka. Yang pertama dengan kejadian gempa dan tsunami di Sulteng. Duka yang kedua adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang dinilainya berdampak kepada perekonomian nasional,” ujar pengamat dan pelaku ekonomi, Prof,Ir Mochammad Sudjana kepada garudanews.id, Sabtu, (6/10).

Dia juga mengaku aneh dengan dahsyatnya pemberitaan mengenai kasus Ratna Sarumpaet, tapi pada bagian lain pemberitaan mengenai lemehnya nilai tukar rupiah, pemerintah seolah “cuci tangan”  dan lebih menyalahkan faktor eksternal. Padahal, realitanya fundamental ekonomi bangsa Indonesia sangatlah rapuh.

Selain itu, dia pun meyakini melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini bukan hanya karena faktor eksternal. Petensi ekonomi sektor ril yang seharusnya terus digenjot, namun pada era Jokowi mulai ditinggalkan. Hal itulah, kata dia, menjadi salah satu dampak dari terus terpuruknya rupiah.

Masyarakat Jangan Terkecoh Pengalihan Isu

Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno meminta agar masyarakat tidak terkecoh dengan pengalihan isu berupa kasus hoaks Ratna Sarumpaet. Dia menilai, ada masalah lebih penting untuk dipikirkan, yakni masalah ekonomi.

Mencari jalan keluar untuk permasalahan ekonomi lebih penting daripada membahas kelanjutan kasus Ratna Sarumpaet.

“Berharap kita kembali ke laptop, kembali ke isu utama. Jangan kita terkecoh dengan kegiatan yang mengalihkan isu utama kita yaitu isu ekonomi,” kata Sandiaga Uno di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Masalah ekonomi yang dimaksud Sandiaga adalah minimnya lapangan pekerjaan dan kenaikan harga bahan pokok.

“Bagaimana kita dalam keadaan sekarang melindungi lapangan kerja jangan sampai ada PHL, menjaga agar tidak naik lagi kebutuhan bahan pokok, harga listrik, biaya energi dan sebagainya,” ujar Sandiaga Uno.

Mantan Wakil Gubernur DKI itu juga mengatakan kasus hoaks yang diciptakan Ratna Sarumpaet, membuat berbagai kalangan lupa akan lonjakan nilai tukar dolar yang sampai menembus Rp 15.000.

“Selagi ramai 3 Oktober kemarin kita lupa dolar tembus Rp 15.000,” kata Sandiaga Uno. (Rel/Lip)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here