KPPU: Kenaikan Harga Cabai Dipengaruhi Faktor Cuaca Ekstrim

0
501
Cabai Merah (Foto: Ist)

Jakarta (Garudanews.id) – Ketua Tim Penyelidikan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Goprera Panggabean mengatakan, dari hasil investigasinya kesejumlah wilayah, kesimpulan sementara kenaikan harga cabai yang melebihi harga daging itu, kata dia, dikarenakan cuaca ekstrim yang didominasi turunnya hujan.

Namun, terkait dengan adanya dugaan kartel yang dilakukan oleh oknum pedagang besar, dia mengakui, sampai dengan hari ini pihaknya terus melakukan pengawasan. Tapi, sejauh ini ia belum menemukan bukti kuat adanya kartel cabai.

“Masih terus diselidiki terkait dugaan kartel yang dilakukan pengusaha besar. Namun, agak susah dibuktikan,” ujar Panggabean, kepada Garudanews.id, ketika dihibungi via telpon celullarnya, Selasa, (21/2).

Dirinya pun mendesak kepada pemerintah agar melakukan penganggaran  produktivitas yang memadai  guna penanganan dan penambahan lahan produksi cabai.

Terkait wacana kebijakan pemerintah untuk mengimpor cabai, secara pribadi Panggabean menyampaikan bahwa itu sah-sah saja, sepanjang untuk penetrasi pasar. Dan itu pun bersifat sementara.

“Sah-sah saja bila untuk sementara, namun kedepan harusnya pemerintah lebih serius menangani perihal menejemen produksi sampai pemasarannya,” tutupnya.

Sementara itu, Usep, salah satu petani cabai di Garut, Jawa Barat, menuturkan bahwa 3-4 tahun yang lalu pernah, harga cabai Rawit harganya sangat mahal tapi bukan di musim hujan seperti tahun ini.

Biasanya di musim kemarau panjang, mungkin karena varietas cabai rawitnya berbeda,” kata Usep.

Dengan mahalnya cabai rawit saat ini, lanjut dia, petani di Garut jarang sekali  mau mencobanya untuk tanam cabe rawit meski biaya perawatannya dibawah cabai keriting atau cabei merah.

“Mungkin harga cabai rawit sangat jarang lonjakan harga tinggi di banding cabai keriting atau cabai merah,” tuturnya.

Ketika ditanya kenapa sekarang harga cabai Rawit mahal dia mengatakan kemungkinan pasokan masuk pasar Induk kurang dari yang di butuhkan.

“Biasanya, begitu  kondisi cabai lagi mahal seperti sekarang ketika kita sampai di pintu tol Cibiitung saja sudah ada yang nawar dan siap bayar. Tapi kalau cabai lagi banyak,   nyampe di Induk jam 12 malam, kita nunggu sampai pagi, karena cabai yang kita bawa di jajakan dulu oleh pengecer di pasar. Kalau sudah terjual baru saya dapat uang,” pungkasnya.

Di tempat terpisah, harga cabai rawit di Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung naik lagi menjadi Rp250.000 per kilogram.

“Harga cabai rawit lokal saat ini semakin mahal yakni tembus Rp25.000 per ons. Pedagang terpaksa jual mahal karena dari agennya memang sudah mahal,” ujar salah satu pedagang di Pasar Pagi Pangkalpinang, Uyan, Selasa.

Menurutnya, pasokan cabai dari daerah luar seperti dari Palembang dan Jawa berkurang bahkan tidak ada sama sekali.

“Cabai yang kita jual adalah cabai lokal karena cabai dari luar daerah tidak ada. Kita tidak tau apa kendalanya. Dari dulu harga cabai rawit lokal memang lebih mahal karena lebih pedas di bandingkan cabai dari luar daerah,” katanya.

Sebagai pedagang, Uyan tidak berani mengambil cabai rawit dengan jumlah yang banyak karena dampak dari kenaikan harga tersebut, pembeli sedikit berkurang.

“Untuk cabai kecil kita ambil sedikit, yang biasanya mencapai 5 kilogram namun sekarang hanya sekitar 2 kilogram saja. Takut membusuk karena pembeli berkurang,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Perdagangan Disperindagkop Pangkalpinang, Eka Subehi mengatakan, kenaikan harga cabai rawit lokal ini dikarenakan pasokan cabai berkurang.

“Pasokan cabai rawit tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena hanya mengandalkan pasokan dari petani lokal,” ujarnya.

Sementara itu tambahnya, pasokan cabai rawit dari sentra seperti Palembang dan Jawa tidak ada karena gagal panen.

“Ketersediaan cabai di tingkat produsen di Palembang dan Jawa juga terbatas akibat gagal panen ataupun produksinya rendah. Hal ini juga disebabkan cuaca buruk sehingga tidak menguntungkan para petani cabai baik itu lokal maupun dari luar,” jelasnya. (Tim/Ant)

 

 .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here