Krisis Ekonomi Global Berdampak pada Pelaku KUKM

0
69
Corporate Secretary and Chief Economist BNI Ryan Kiryanto dalam acara diskusi “Proyeksi Perekonomian 2019 Tantangan dan Peluang Bagi Koperasi dan UKM” di Jakarta, Rabu (7/11).

JAKARTA (Garudanews.id) – Gejolak ekonomi global berdampak terhadap usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sebab, terdapat supply chain atau rantai pasok yang membentang antara investasi ke korporasi besar hingga pengusaha skala UMKM.

Hal tersebut diungkapkan Corporate Secretary and Chief Economist BNI Ryan Kiryanto dalam acara diskusi “Proyeksi Perekonomian 2019 Tantangan dan Peluang Bagi Koperasi dan UKM” di Jakarta, Rabu (7/11).

Ryan mengungkapkan, apabila kondisi ekonomi dunia sedikit melemah, maka, dampak pertama dirasakan oleh korporasi skala besar. Efek dominonya, kata dia, dalam konsep rantai pasok yakni menurunnya performa korporasi besar berdampak pada korporasi segmen menengah. “Terakhir,  kelas UMKM juga berpotensi terkena efeknya,” ungkapnya.

Pelaku UKM tidak akan terbawa dampak gejolak ekonomi global terlalu dalam. Sebab, pengusaha Indonesia terbilang berpengalaman dalam menghadapi dinamika ekonomi.

“Kita sudah belajar dengan kejadian-kejadian kemarin. Ini yang menyebabkan pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi dapaat berada di atas 5 persen,” katanya.

Selain itu, daya beli masyarakat Indonesia juga terpantau masih terjaga baik. Ryan menjelaskan, kondisi ini terlihat dari tingkat konsumsi rumah tangga pada kuartal III tahun ini mencapai sekitar 5,01 persen. Sementara itu, sebelumnya lebih tinggi, yakni menyentuh 5,14 persen di kuartal II.

Poin lain terkait stabilitas daya beli masyarakat adalah transaksi masyarakat menggunakan instrumen ritel sistem pembayaran (ATM, debit, kartu kredit dan uang elektronik) yang masih berada dalam tren meningkat. “Per-Agustus 2018, transaksi ini tumbuh 9,4 persenyear on yearyang didominasi instrumen ATM-debit dengan pertumbuhan 9,1 persenyear on year,” kata Ryan.

Sementara itu Juan Firmansyah (business developtment and sales officer Du’anyam/ salah satu official partner merchandise asian games ke 18) mengatakan, dampak gejolak ekonomi global dirasakannya secara langsung.

Harga bahan baku dari vendor dan mitra kerja, seperti kulit impor, sempat mengalami peningkatan seiring dengan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar beberapa waktu belakangan. Bahan baku itu digunakan sebagai komplementer untuk membuat produk jadi berupa anyaman.

Dengan peningkatan harga dari vendor, Juan menambahkan, pihaknya juga harus melakukan perubahan harga terhadap klien. Meski kenaikkan harga per produk tidak sampai 10 persen, apabila diakumulasi, kenaikkan tetap terasa berat.

“Mau tidak mau, kami coba komunikasikan dengan klien. Untungnya, mereka paham,” imbuhnya. (Edr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here