Larangan Disholatkannya Pendukung Penista Al-Quran Sudah Jelas

32

Jakarta (Garudanews.id) – Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan DP MUI, Anton Tabah, menegaskan tidak disolatkannya para pendukung dan pembela penista Al-Quran bukanlah suatu polemik, tetapi sudah jelas berdasarkan Al-Quran Surat At-Taubah ayat 84.

“Gak ada polemik, jangan suka nulis polemik. Ayatnya sudah jelas dan tegas. Mosok penista Al-Quran, pendukung penista Al-Quran dan pembela penista Al-Quran disholatkan. Kalo mati tak ada hak nyolatkan jenazah, mereka ini bukan khilafiyah apalagi polemik,” tegasnya kepada Garuda News.

Purnawirawan Polisi ini juga menegaskan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak harus mengeluarkan fatwa dalam menyikapi hal tersebut. “Yang sudah jelas tak perlu fatwa, judi haram babi haram gak perlu fatwa,” tambahnya.

Disinggung mengenai sejumlah masjid di Jakarta yang memasang spanduk menolak untuk menyolatkan jenazah para pendukung penista alquran, dirinya menegaskan jika hal itu wajib dilakukan.

“Itu wajib. Karena itu jelas kalimat larangan Allah SWT. Walaa tusholi abadan, jangan kau sholatkan selamanya. Walaa taqum ala qobrihi, jangan berdiri diatas kuburnya. Ikut memakamkan pun dilarang,” paparnya.

Dirinya juga meminta dalam urusan agama, pemerintah harus manut dengan MUI. “Ini (tidak menyolatkan pendukung penista Al-Quran) berdasarkan Al-Quran. Jangan ditarik ke masalah politik. Makanya kita menyebutnya pendukung penista agama, tidak orang perorang,” papar pria yang saat ini ditugaskan ke desa-desa yang terkena kristenisasi di Kabupaten Semarang dan Boyolali ini.

Seperti diketahui, sejumlah pengurus masjid di DKI Jakarta menegaskan tidak akan membantu prosesi pemandian jenazah bagi para pendukung terdakwa penista agama.

Penegasan tersebut diwujudkan dengan dipajangnya sejumlah spanduk di beberapa masjid yang berisi keputusan tidak memandikan jenazah para penista agama.

Kabar tersebut tersebar hingga heboh di dunia maya. Beberapa masjid yang memajang spanduk tersebut antara lain, Masjid Jami Al Hikmah, Masjid At Tawwab Cakung Barat, Masjid Al Jihad Setiabudi Jakarta, Masjid At Taqwa Pasar Manggis, Masjid Mubasyirin Karet, Masjid Al Ikhlas Karet Setiabudi, serta sejumlah masjid lainnya yang tersebar di seluruh Jakarta.

Aksi penolakan tersebut menurut pengurus masjid didasari oleh firman Allah SWT dalam Al Quran.

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasulnya dan mereka mati dalam keadaan fasik” (QS. At-Taubah ayat 84). (Hap)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.