Memasuki Tahun Politik, Isu Hoax Soal Pelemahan Rupiah Mulai Marak

0
140
Pengamat komunikasi publik Dr Adi Suparto saat memberikan keterangan pers usai diskusi 'Memerangi Hoax Dalam Rangka Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional' yang digelar di Hotel Rolling Stone, Surabaya, Rabu (10/10).

SURABAYA (Garudanews.id) – Pengamat komunikasi publik  Dr Adi Suparto mengungkapkan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang terjadi saat ini dinilai bukan karena ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Namun demikian, tidak dipungkiri pula, memasuki tahun politik isu ekonomi kerap dijadikan ajang untuk menyudutkan pemerintahan guna mendapatkan simpati publik.  Kendati demikian masyarakat juga harus obyektif dalam menyikapi persoalan tersebut.

“Seharusnya masyarakat mempercayakan pemerintah dalam menangani permasalahan ekonomi, sebagaimana diamanatkan undang-undang. Bukan malah sebaliknya membuat Meme yang menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat,” kata Adi.

Menurut Adi,  beredarnya meme yang menggunakan simbol kenegaraan akibat ketidakpuasan sebagian masyarakat yang dilampiaskan melalui ruang publik merupakan tindakan yang tidak dibenarkan.

Meski hal tersebut sebagai bentuk aspirasi untuk menyuarakan kepada penguasa maupun pemangku kepentingan,  akan tetapi bila tidak menggunakan cara yang elegan, tentunya,  kata dia,  akan berbuntut pada persoalan hukum.

Lebih lanjut,  Adi meminta agar semua pihak dapat memberikan solusi terbaik guna mendukung upaya pemerintah dalam melakukan stabilitas ekonomi di tengah pengaruh ekonomi global.

“Terlebih,  memasuki masa kampanye di tahun politik.  Bila semua pihak menonjolkan ego sektoralnya guna mendapatkan kekuasaan dengan cara-cara yang tidak santun,  hal ini akan memperkeruh suasana jelang pelaksanaan Pileg dan Pilpres 2019 mendatang,” ujar Adi, usai acara diskusi yang selenggarakan Jalan Media Komunikasi (JMC) dengan tema ‘Memerangi Hoax Dalam Rangka Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional’ yang digelar di Hotel Rolling Stone, Surabaya, Rabu (10/10).

Menurutya, dampak ekonomi global bukan saja melanda Indonesia, akan tetapi sejumlah negara berkembang juga ikut terdampak dari persoalan tersebut.

“Terpenting adalah, bagaimana pemerintah dapat meyakinkan para investor agar tidak menarik investasinya ke luar negeri, Dalam kondisi ekonomi yang demikian, pemerintah semestinya bisa meyakinkan investor besar untuk menahan dananya di pasar domestik. Tapi itupun  belum cukup. Pemerintah juga segera menenangkan pasar dari aksi spekulan yang giat berburu dolar. Bank Central misalnya, segera melakukan operasi pasar terbatas yang tidak membebani cadangan devisa,” ucap dosen pascasarjana ini.

Adi menyarankan, jika dirasakan perlu dan mendesak, pemerintah bisa mengkaji ulang proyek-proyek infrastruktur yang sarat dengan beban dolar. Kaji ulang yang dimaksudkan terutama dilakukan di sektor pembiayaan.

Pastikan bila didanai dengan pinjaman luar negeri, utang itu sudah disertai upaya perlindungan nilai (hedging). Ditegaskan juga,  bahwa kehati-hatian ini diperlukan untuk menghindari kerugian besar akibat merosotnya nilai rupiah.

Tidak kalah pentingnya, Adi mengimbau agar pemerintah dan stake holder bersama-sama meyakinkan publik bahwa depresiasi rupiah kali ini bisa ditangani secara baik.

Namun demikian, ia pun meyakini stabilitas ekonomi dalam negeri  masih terjaga dan tergolong kondusif.  Mengingat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang terjadi saat ini tidak menimbulkan gejolak pasar. (Sms)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here