Membaca Pesan Politik Panglima TNI

30

Oleh: Agus Wahid

Ada yang beda dari peringatan HUT TNI ke 72 dibanding tahun-tahun lalu. Bagaimana tidak? Acara HUT TNI yang dipusatkan di Pantai Anyer kemarin melibatkan unsur rakyat yang demikian menyatu dengan kekuatan TNI. Mereka – dari berbagai kalangan – ikut menikmati (menaiki armada kapal perang, tank dan mobil-mobil TNI). Terlihat rona wajah rakyat yang begitu antusias dan gembira, bergandeng tangan bersama tentara-tentara sigap-tegap. Yang perlu kita telisik lebih jauh, apa pesan yang sesungguhnya ingin disampaikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo?

Siapapun – dalam merayakan hari ulang tahunnya – berhak menentukan tema. Lalu, mengapa HUT TNI ke 72 kemarin mengambil tema “Bersama Rakyat, TNI Kuat”? Dalam hal ini kita tak bisa pungkiri bahwa TNI melihat dinamika kebangsaan dan kenegaraan Indonesia – setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini – menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Ada potensi destruksi lokal bahkan nasional yang membahayakan NKRI. Di sanalah, TNI – sebagai institusi dan sumpah prajurit – memang harus terpanggil untuk maju terdepan dalam mengamankan kedaulatan NKRI tanpa kompromi.

Apakah sikap tegas itu dapat dinilai bahwa TNI berpolitik? It`s absolutely yes. Upaya dan gerakan apapun terkait dengan kepentingan bangsa-negara – dalam kamus politik – merupakan domain politik, yakni politik keamanan dan pengamanan, bukan politik how to get a power (memburu kekuasaan). Karena itu sungguh tidak tepat jika ada pernyataan bahwa TNI tidak boleh berpolitik. Yang harus digaris-bawahi, politik TNI hanya satu: menjaga kedaulatan dan harga diri bangsa-negara. Politik memelihara dan mempersatukan entitas yang bersumbu pada kepentingan bangsa dan negara. Dengan demikian, ada dimensi yang mendarah-daging dalam jatidiri TNI: menyelamatkan negara dan ideologi yang disepekati oleh para pendiri negeri ini dari rongrongan dalam ataupun luar negeri.

Sikap dan partisipasi politik TNI kali ini memang tampak diekspresikan ke hadapan publik. Hal ini sejalan dengan dinamika politik belakangan di Tanah Air ini yang tampak agresif memperlihatkan upaya polarisasi ideologi komunis dan upaya sistimatis “okupasi” teritorial negeri ini melalui agenda investasi dan bisnis. Dua aspek yang sekaligus digalang – dalam perspektif kebangsaan dan kenegeraan – merupakan ancaman serius yang berpotensi meraibkan kedaulatan NKRI dan nasib hidup bangsanya yang jelas-jelas berfalsafah Pancasila, bukan komunisme ataupun kapitalisme. Memang, kali ini tampak bagai hantu. Namun etape dan proses “kolonisasinya” sudah begitu kentara. Itulah sebabnya, TNI – sekali lagi atas dasar Sapta Marganya yang diindoktrinasi sejak masuk ke institusi – tidak bisa memandang kecil atas potensi bahaya itu. Refleksinya, tak rela berdiam diri ketika saksikan geliat politik, ideologi dan ekonomi yang sungguh akan memporakpadakan bangsa dan negeri ini.

Kesadaran ideologis itu – di mata TNI – perlu diperkuat. Memang, TNI kita tak bisa dipandang sebelah mata. Jika kita komparasikan kualitas mental dengan prajurit dari berbagai negara, TNI dikenal jauh lebih berdaya secara mental. Dan itu dapat dibuktikan ketika bersama-sama diterjunkan dalam misi perdamaian dunia di bawah bendera pasukan PBB.  Namun demikian, TNI tampak menyadari bahwa potensi ancaman dalam dan luar negeri demikian “raksasa”. Bukan hanya dari sisi kuantitas tentara, tapi sejumlah kekuatan lain seperti ekonomi dan teknologi informasi. Inilah keraksasaan kekuatan strategis lawan yang kini dihadapi.

Dalam konteks inilah menjadi sangat relavan ketika TNI menunjukkan bahwa dirinya – bersama rakyat – akan membuat TNI kuat. Secara langsung atau tidak, drama HUT TNI ke 72 kemarin seperti menunjukkan, “Inilah kekuatan kami yang utuh, siap menghadapi kekuatan apapun dan dari manapun”. Pesan ini – secara implisit – pun sesungguhnya sampaikan kepada para pihak yang ada di dalam ataupun di luar sana untuk jangan coba-coba mengganggu kedaulatan negeri ini, termasuk ideologinya yang sudah dirumuskan dan disepakati sejak 1945 itu.

Perlu dicatat, kekuatan rakyat sangat tak terbatas. Meski mereka tak dipersenjatai, tapi ketika pekik dikumandangkan untuk melawan kekuatan agresor, mereka akan menjadi kekuatan maha dahsyat. Dan itu dapat kita baca jelas dari lintasan historis saat kemerdekaan negeri ini, saat hadapi para pembonceng NICA, juga saat hadapi kekuatan pemberontak komunis dari tahun ke tahun. Dan jika kita kaitkan dengan era proxy-war, maka jelas bahwa elemen rakyat akan bisa memainkan peran yang jauh lebih berdaya bersama rakyat. Ada pembagian tugas: TNI dari sisi pertahanan secara militer. Sedangkan rakyat, ambil peran dari sisi teknologi informasi dan komunikasi.

Kini, kita perlu merenung lebih jauh, apakah para antek komunis yang ada di dalam dan atau di luar masih “bernafsu” mengganggu kedaulatan dan ideologis negara? Jika memang tetap bernafsu, maka nasib mereka akan jauh lebih buruk dibanding apa yang mereka hadapi semasa 1942, 1949 ataupun 1965. Bahkan – dalam format berbeda – akan jauh lebih tragis dibanding tregadi  Jakarta 1998. Kejayaan mereka yang sudah dinikmati sejak berakhirnya tragedi jakarta itu akan tergulung tikar lagi. Mereka akan berlomba selamatkan diri ke Singapura atau negeri leluhurnya, yang jelas tidak seindah di negeri ini.

The last but not least, TNI sudah memperingatkan atau menyampaikan pesan politik seperti itu. Karena itu, sebaiknya siapapun mereka dari unsur dalam ataupun luar negeri perlu menghentikan libodo serakahnya. Jangan ganggu bangsa dan negara dengan upaya mengubah ideologi negara. Juga, jangan coba-coba bermain-main yang arahnya merusak NKR. Inilah pesan politik TNI yang dapat kita lansir lebih jauh dari tema besar HUT TNI ke72.

Jakarta, 17 Oktober 2018

Penulis: peneliti The Cyber House – Jakarta

 

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan tanggapan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.