Menengok Perkembangan Islam di Negeri Tirai Bambu

0
307
Penulis (tengah) bersama Syaikh Imam Chien Musa (sebelah kanan), dan pengurus Asosiasi Islam Shanghai di depan Masjid Xiaotaoyuan. (Foto: Istimewa)

Ragam islam di negeri Tirai Bambu, dalam suasana dingin, kurang lebih suhu 8 derajat, Masjid Xiaotaoyuan, di Kota Shanghai, Republik Rakyat Cina, Jumat siang (24/3) itu mulai ramai didatangi jamaah.

Masjid ini merupakan masjid terbesar di Shanghai yang memiliki halaman paling luas. Selain itu, di dalam masjid ada pula perpustakaan dan ruang kelas serta markas Asosiasi Islam Shanghai.

Masjid yang dibangun sejak 1917 ini terletak di antara bangunan perumahan di sekitarnya sehingga akan lebih mudah untuk menemukannya. Biasanya ada sekitar 400 orang yang datang untuk salat Jumat dan 2.000 orang atau lebih untuk acara-acara tertentu.

Dalam kesempatan berkunjung ke masjid tersebut, saya berkesempatan berdialog dengan Syaikh Chien Musa, imam masjid. Menurutnya, umat Islam di Tiongkok sangat harmoni dalam menjalani hubungan kehidupan antaragama yang ada.

“Kami menjalani hidup sangat harmoni antar umat beragama di Cina,” ujar Imam.

Di tengah gedung pencakar langit yang jumlahnya 8.000 gedung, Muslim Shanghai yang minoritas itu menjalani kehidupan beragama dengan damai dan aman tanpa diganggu pihak mana pun.

Hingga kini, sedikitnya ada 40 ribu masjid yang tersebar di seluruh wilayah Tiongkok. Bahkan, hingga kini masih ada pembangunan masjid-masjid baru di daratan Cina.

Di Shanghai sendiri jumlah umat Islam berkisar 140 ribu Muslim, dan 100 ribu Muslim yang tidak tinggal tetap di sana. Sementara total jumlah penduduk Kota Shanghai sekitar 26 juta, di mana kota ini menjadi kota metropolitan dan bisnis terbesar dan termodern di Cina. Sementara Beijing kota terbesar dan pusat pemerintahan Cina.

Masyarakat Islam setempat secara swadya melakukan pembangunan masjid-masjid tersebut. Di Cina tidak ada dewan masjid sebagaimana di Indonesia. Semua urusan masalah Islam di Cina ditangani oleh Asosiasi Islam di negeri itu. Di setiap wilayah atau provinsi/kota, ada asosiasi Islam.

Adapun khusus dalam hal pengurusan masjid, semuanya menjadi tanggung jawab dewan pengurus masjid masing-masing, atau semacam Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Indonesia.

Meski dalam hal kehidupan keagamaan, termasuk Islam, Pemerintah Cina membantu baik fasilitas dan pendanaan, mereka tetap menerima sumbangan untuk pembangunan masjid dari pengurus masjid lain maupun masyarakat umum.

Namun mengenai pembangunan dan perbaikan masjid di sana, tetap menjadi urusan sendiri umat Islam.

Seperti halnya di Indonesia, masjid di sana juga mengelola dana zakat, infak, dan sedekah. Dana itu diperuntukkan untuk pemberdayaan masjid dan umat Islam.

Sebagai upaya untuk menyambung tali silaturrahim di kalangan umat Islam di Tiongkok, Imam Musa kerap melakukan kunjungan ke masjid-masjid di wilayah Shanghai dan sekitarnya.

Kami bersyukurr sekali Islam dapat berkembang bebas di sini. “Inilah kondisi yang kami alami,” kata Imam Musa sambil menambahkan bahwa di masjidnya ada dua khotbah pada pelaksanaan sholat Jumat.

Khutbah pertama dalam bahasa Cina dan khotbah kedua dalam bahasa Arab yang diterjemahkan kedalam bahasa Cina.

Imam Musa menjelaskan bahwa tak sedikit orang Cina yg masuk Islam lantaran pernikahan.

Musa sempat mengajak saya ke lantai dua dan tiga komplek bangunan masjid. Dua lantai dan ruangan itu adalah museum masjid, dan satu ruangan berisi sejarah Islam di Cina.

Di museum tersebut terdapat sejumlah kitab kuno yang sudah diterjemahkan dan Al-Quran sumbangan dari sejumlah umat Islam negara lain yg telah mengunjungi masjid itu. Sayang, di sana belum ada Al-Quran dari sumbangan umat Islam Indonesia.

Beberapa masjid yang saya kunjungi, semuanya menyediakan fasilitas meja dan kursi untuk Shalat bagi usia lanjut. Selain itu, masjidnya bersih dan rapi, dan juga terdapat alat CCTV di setiap sudutnya.

Melihat Cina yang berkembang menjelma menjadi negara maju, juga Islam di dalamnya yang cukup baik dan berkembang dengan kebebasan menjalankan ibadah, patut mendapat dukungan dari umat Islam di belahan lainnya termasuk Indonesia.

Sinergi dan dialog di antara muslim internasional, termasuk antara Muslim Indonesia dan Cina, diperlukan guna membantu membangun kesejahteraan, kemajuan dan perdamaian dunia.

Seperti halnya dianjurkan oleh Islam, hikmah dan pengetahuan positif dari manapun datangnya, harus kita ambil. Dan yang tidak baik dan tidak sesuai dengan prinsip dan falsafah hidup bangsa kita, tentu kita tinggalkan. Dan di Cina, banyak hikmah yang patut kita ambil dan kembangkan.

Oleh: Hery Sucipto: Sekretaris Bidang Kominfo, Kerjasama Antar Lembaga dan Hubungan Luar Negeri, Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here