Pasca Pembakaran Bendera Tauhid, BANSER Dinilai Kurang Mendapat Simpati Publik

0
112
Bendera bertuliskan kalimat tauhid.

JAKARTA (Garudanews.id) – Pengamat komunikasi publik dari Jalam Media Comunikasi (JMC) Abdillah Balfas mengaku heran dengan fenomena  masyarakat muslim khusunya bagi sekelompok orang yang mengaku fanatik terhadap islam, namun sayangnya mudah tersulut emosi dengan menjadikan obyek bendera bertuliskan kalimat tauhid menjadi sasaran pembakaran.

Hal tersebut dikatakannya menyusul insiden pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid saat peringatan hari santri yang dilakukan oleh oknum BANSER di Garut Jawa Barat.

“Pola komunikasi yang dibangun oleh kelompok yang selama ini dengan jargonnya melawan kaum intoleransi ternyata semakin nyata bahwa seperti pepatah mengatakan ‘menepuk air didulang terpercik muka sendiri’ demikian ulah dari sekelompok massa yang membakar bendera tauhid tersebut,” ujar Balfast dalam keterangan tertulisnya, senin (29/10).

Menurutnya, massa tersebut harusnya menyadari bahwa di tahun politik ini banyak sekali kelompok yang ingin memanfaatkan hari santri sebagai ajang kepentingan poliik tertentu.

“Karena ketidak tahuannya pelaku atau mungkin elit BANSER sendiri yang kurang kontrol sehingga insiden pembakaran kalimat tauhid itu terjadi. Tapi sebagai organisasi massa yang cukup tua seharusnya insiden itu bisa dihindarkan. Padahal, seperti yang kita ketahui, peran BANSER dalam dalam membantu aparat keamanan dinilai cukup bagus, jangankan sesama umat muslim. Saat perayaan natal dan tahun baru pun BANSER dinilai cukup aktif dalam membantu kelancaran umat non muslim untuk menjalankan ibadahnya,” ujar dia.

Namun sayangnya ditengah sikap toleransi kalangan NU yang cukup tinggi, ada peristiwa yang sangat mengejutkan, dimana bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dibakar oleh oknum BANSER dan hal itu membuat publi tidak simpati lagi terhadap organisasi sayap NU tersebut.

Terpisah, Anggota Komisi VIII DPR RI Nanang Samodra sangat menyayangkan terjadinya insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang melibatkan oknum BANSER. Pasalnya dalam bendera yang dibakar itu tertulis berlafadzkan kalimat tauhid.

Walaupun bendera yang dibakar itu diduga bendera dari ormas HTI yang telah dibubarkan namun ada yang berpendapat bahwa itu bendera tauhid Ar-Rayyan. Hal ini dapat memicu kontroversi yang berpotensi menimbulkan kegaduhan.

“Oleh karena itu, kasus ini harus segera ditangani dengan seksama agar tidak merebak kemana-mana. Terlebih lagi di tahun politik ini, apabila cara penanganannya kurang tepat, hal-hal yang sederhana dapat berkembang menjadi bola salju yang bergerak liar mengganggu kedamaian,” tandas Nanang dalam keterangannya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/10).

Kepada masyarakat, legislator Partai Demokrat mengimbau agar jangan mudah tersulut emosinya menghadapi kasus-kasus seperti ini. Percayakan penanganannya kepada penegak hukum, dan tidak perlu turut menghakimi sebab masih banyak persoalan lain yang perlu diselesaikan, demi tetap menjaga keutuhan dan perdamaian negara tercinta.

Meski demikian, ia mengatakan masyarakat berhak tahu atas perkembangan penanganan permasalahan yang diproses oleh penegak hukum, Jangan sampai ada kesan dalam kasus ini ada hal yang ditutup-tutupi. Dengan demikian, diyakini masyarakat akan dapat memberikan kepercayaan yang semakin tinggi kepada aparat penegak hukum. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here