Pemerintah Belum Ada Solusi Tingkatkan Produksi Garam Selain Pasrah Pada Cuaca

0
498
Aktivitas petani garam. (Foto: Ist)

JAKARTA (Garudanews.id)- Pemerintah tampaknya hanya bisa berpasrah pada cuaca untuk menaikan produksi garam. Belum ada solusi yang konkret untuk meningkatkan produktivitas garam rakyat yang berdampak pada kesejahteraan petani garam.

Beberapa daerah, seperti Palu dan Pasuruan telah mengalami gagal panen karena cuaca yang tidak menentu. Cuaca yang tiba-tiba panas dan kemudian hujan membuat tambak garam milik petani rusak.

Karena cuaca pula, produksi garam rakyat tahun lalu hanya 144.009 ton atau 4% dari target 3,6 juta ton. Dengan alasan yang sama, produksi tahun ini pun diperkirakan bisa kembali tidak sesuai target 3,2 juta ton karena banyak daerah yang gagal panen.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Brahmantya Satyamurti Poerwadi mengatakan proses produksi garam membutuhkan matahari dan lahan yang sangat luas. Sementara itu, kondisi cuaca di berbagai daeah masih disebut memiliki curah hujan yang tinggi, yakni sekitar 150 milimeter (mm) per hari.

“Garam butuh matahari dan lahan yang luas. Tahun 2015 produksi kita kan bagu dan tidak impor karena cuaca mendukung. Baru tahun lalu dan sekarang, cuaca kebanyakan hujan. Jadi, berdoa saja supaya lebih sering panas,” ucap Brahmantya kepada Media Indonesia, Kamis (20/7).

Pemerintah pun terkesan cenderung sulit meningkatkan penggunaan teknologi guna mengkerek produksi garam tanpa perlu mengkhawatirkan cuaca. Brahmantya menyebut penggunaan teknologi untuk garam membutuhkan beban listrik yang sangat besar.

“Teknologi apapun butuh lampu sebagai

PEMERINTAH tampaknya hanya bisa berpasrah pada cuaca untuk menaikan produksi garam. Belum ada solusi yang konkret untuk meningkatkan produktivitas garam rakyat yang berdampak pada kesejahteraan petani garam.

Beberapa daerah, seperti Palu dan Pasuruan telah mengalami gagal panen karena cuaca yang tidak menentu. Cuaca yang tiba-tiba panas dan kemudian hujan membuat tambak garam milik petani rusak.

Karena cuaca pula, produksi garam rakyat tahun lalu hanya 144.009 ton atau 4% dari target 3,6 juta ton. Dengan alasan yang sama, produksi tahun ini pun diperkirakan bisa kembali tidak sesuai target 3,2 juta ton karena banyak daerah yang gagal panen.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Brahmantya Satyamurti Poerwadi mengatakan proses produksi garam membutuhkan matahari dan lahan yang sangat luas. Sementara itu, kondisi cuaca di berbagai daeah masih disebut memiliki curah hujan yang tinggi, yakni sekitar 150 milimeter (mm) per hari.

“Garam butuh matahari dan lahan yang luas. Tahun 2015 produksi kita kan bagu dan tidak impor karena cuaca mendukung. Baru tahun lalu dan sekarang, cuaca kebanyakan hujan. Jadi, berdoa saja supaya lebih sering panas,” ucap Brahmantya seperti dikutip Media Indonesia, Kamis (20/7).

Pemerintah pun terkesan cenderung sulit meningkatkan penggunaan teknologi guna mengkerek produksi garam tanpa perlu mengkhawatirkan cuaca. Brahmantya menyebut penggunaan teknologi untuk garam membutuhkan beban listrik yang sangat besar.

Garam butuh matahari dan lahan yang luas. Tahun 2015 produksi kita kan bagu dan tidak impor karena cuaca mendukung. Baru tahun lalu dan sekarang, cuaca kebanyakan hujan. Jadi, berdoa saja supaya lebih sering panas,” ucap Brahmantya kepada Media Indonesia, Kamis (20/7).

Pemerintah pun terkesan cenderung sulit meningkatkan penggunaan teknologi guna mengkerek produksi garam tanpa perlu mengkhawatirkan cuaca. Brahmantya menyebut penggunaan teknologi untuk garam membutuhkan beban listrik yang sangat besar.

“Teknologi apapun butuh lampu sebagai pengganti matahari dan itu ada biayanya. Penambahan biaya itu yang bisa membuat tidak kompetitif nantinya,” tukasnya.

Selain itu, peningkatan produksi garam juga dinilai membutuhkan penambahan lahan. “Di Australia saja satu perusahaan butuh 10 hektare hamparan lahan. Kalau kita misalnya bikin 1 hektare, itu saja sudah butuh banyak sekali lampu. Listrik kita mesti memadai dan beban biaya juga akan lebih,” imbuh Brahmantya.

(Chep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here