MEA Dampingi UMKM Kota Batam

0
227

BATAM, (Garudanews.id) – Dalam rangka menghadapi era perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN ( MEA), Kementerian Koperasi dan UKM berkomitmen meningkatkan produktifitas dan daya saing koperasi dan UMKM, serta memprioritaskan pengembangannya secara terintegrasi.

Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha, Kemenkop dan UKM melaksanakan Temu Konsultasi KUMKM dalam rangka pendampingan penanganan dampak perdagangan bebas MEA, di Travelodge Hotel  Batam, Kamis (22/3).

 

Dalam kegiatan Temu Konsultasi yang didampingi oleh Pendamping MEA diharapkan  mampu memenuhi kebutuhan KUMKM di era perdagangan bebas MEA yang semakin kompetitif baik di pasar dalam negeri, maupun pasar ASEAN.

Kepala Bidang Fasilitasi Mitigasi Resiko Usaha Dampak Globalisasi, Kemenkop dan UKM, Sutrisminingsih menyampaikan bahwa kegiatan tersebut berkenaan dengan akan dilaksanakannya pendampingan oleh para Pendamping MEA, pada Juli hingga September 2018 mendatang.

Seperti diketahui, pendampingan penanganan dampak perdagangan MEA tahun 2018 akan dilaksanakan di 6 wilayah yaitu Kota Batam, Tasikmalaya, Yogyakarta, Bali, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan, dengan mendayagunakan 3 (tiga) pendamping di masing-masing wilayah.

“Diharapkan dengan temu konsultasi ini, para pendamping memahami mekanisme pendampingan dan mengetahui permasalahan KUMKM yang akan didampingi,” kata Sutrisminingsih.

 

Sementara itu, Kepala Dinas KUKM Kota Batam, Suleman Nababan menyambut baik kegiatan tersebut. Ia juga berharap agar produk UMKM di kota Batam dapat mempunyai daya saing.

“Karena itu, kata dia perlu ada standar baku mutu dari produk yang dihasilkan, sehingga memiliki nilai lebih dari produk tersebut,” ujar Suleman

 

Dalam sebuah testimoninya, Willy Setiawan eksportir produk pertanian ke Singapura menjelaskan Kota Batam sebagai kota perdagangan memiliki letak yang sangat strategis karena bersebelahan dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura.

Seperti diketahui bersama bahwa Singapura hanya menghasilkan 10% produk dari total kebutuhannya, sedangkan sisanya berasal dari impor negara tetangganya, namun saat ini Indonesia paling kecil kontribusinya jika dibandingkan Malaysia dan Thailand.

Willy menambahkan bahwa ruang masih terbuka untuk mengekspor produk UKM kota Batam ke Singapura, namun dibutuhkan kontinyuitas, serta komitmen, baik yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitas produk, maupun ketepatan waktu pengiriman.

“Karena apabila terlambat dalam pengiriman, akan dikenakan  denda,” ungkapnya (Edar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here