Pengamat: Calon dari Petahana Berpotensi Kalah di Pilkda

0
407
Pengamat Politik Universitas Jayabaya, Igor Dirgantara.

JAKARTA (Garudanews.id) – Fenomena menarik sejak berlangsungnya Pilkada serentak pada 2015 lalu, hampir seluruh tracing survey lembaga apapun juga mengindikasikan evaluasinya bahwa incumbent 50 persen memiliki potensi menang. Karena itu sudah merupakan tren prilaku pemilih, tidak terkecuali di Kota Bekasi. Namun demikian alasan ini tentu harus diverifikasi lebih jauh. Hal tersebut diungkapkan Pengamat Politik Universitas Jayabaya, Igor Dirgantara, menyusul beberapa informasi yang berkembang terkait hasil survei calon petahana.

Menurut Igor ada beberapa faktor yang dapat memungkinkan petahana itu mendapatkan suara 50 persen. Diantranya petahana itu mampu memobilisasi birokrasi beserta jajaran yang ada di wilayahnya. Dan itu variasinya banyak.

“Nah, itu point yang pertama bahwa potensi petahana memiliki potensial menang, walaupun ada di beberapa daerah yang kalah, akan tetapi itu memang sudah merupakan tracing survey nya. Sekarang kita elaborasi sebabnya apa. Karena petahana mampu memobilisasi birokrat yang ada,  baik itu fasilitastor, mediator maupun penyandang dana atau dilibatkan menjadi tim sukses,” jelas Igor kepada garudanews.id, Senin, (20/11).

Meski dalam undang-undang telah diatur bahwa aparatur sipil negara (ASN) melarang bahwa ASN untuk tidak masuk dalam politik praktis, akan tetapi sejumlah kepala daerah kerap melibatkan ASN untuk melakukan mobilisasi massa, bahkan ada juga yang menjadi penyandang dana dengan iming-iming jabatan yang diberikan setelah sukses dalam suksesi Pilkada

Nah, kalau itu terjadi sudah barang tentu menjadi tugas penyelenggara negara. Baik itu KPUD dan Panwaslu, untuk lebih mencermati laporan atau pengaduan masyarakat terkait kecurangan yang mungkin dilakukan oleh incumbent.

“Jadi begini, kalau pun incumbent potensial 50 persen menang tapi cara-caranya itu perlu dicermati lebih dalam,” tukasnya.

Kemudian, kata Igor, petahana sangat mampu menggunakan akses di wilayahnya terkait kelompok-kelompok yang bisa didekati dengan menawarkan bargaining menarik jika terpilih.

“Jadi wajar saja bila ada pendapat yang mengatakan incumbent bakal menang bila dipasangkan dengan siapa saja,” ujar Igor.

Tapi, kata dia, sebenarnya prakteknya tidak seperti itu. Petahana sebenarnya sangat potensial kalah. Meski dalam survei 50 persen menang, tapi dalam tracing survey petahana juga memiliki potensi kalah.

“Dasi hasil survei kami ada beberapa daerah calon dari petahana yang mengalami kekalahan. Walaupun dipasangkan dengan siapa saja,” jelas Igor yang juga Direktur Eksekutif Survei & Polling Indonesia (SPIN) itu.

Selanjutnya aspek negatif dari incambent bisa mengalami kekalahan di Pilkada karena publik tetap akan melihat kenerjanya selama ini.

“Kita lihat Kota Bekasi dengan moto Cerdas Bersih dan Ikhsan, akan tetapi korupsi masih merajalela. Kemudian pungutan liar masuh menjadi tradisi yang cukup dilestarikan. Dan Kota Bekasi tergolong Kota yang sangat di bully di medsos. Selain itu pembangunan aspek infrastruktur masih belum merata, dan masih berpijak kepada pembangunan yang hanya berorientasi kepada titik pantau Adipura. Kalau Pak Rahmat effendi tidak bisa merasionalisasikan semua itu, bukan tidak mungkin publik berbalik menilai bahwa kinerjanya selama ini hanya bersifat transaksional,” ujar Igor merinci.

Lebih lanjut Igor mengatakan, terkait naiknya popularitas Rahmat Effendi di Kota Bekasi tidak lepas dari program Kartu Sehat Berbasis NIK. Hal tersebut, kata dia bukan hanya dilakukan oleh Walikota Bekasi. Walikota Bogor Bima Arya yang lebih populer saja saat ini menggunakan trik yang sama untuk menarik simpati masyarakatnya.

“Itu ibaratnya seperti bantuan langsung tunai Karu Sehat dan Kartu Tani, hal semacam itulah yang sering dimanfaatkan incumbent untuk meraih simpati pemilih dan itu di lakukan jelang detik-detik Pilkada. Padahal itu ada celah penyalahgunaan anggaran,” ungkap dia.

Terkait dengan hasil survei yang cenderung naik pada calon dari petahana, Igor mengaku sebenarnya tidak percaya mutlak dengan fakta tersebut.

“Kesimpulan saya, bahwa petahana memiliki petensi menang yaa betul. Bahkan calon petahana dapat menggandeng “KPUD”. Karena KPUD menggunakan dana APBD. Tapi saya prediksi dengan relawan dan tim sukses yang baik dari lawan politik, petahana Kota Bekasi dapat terkalahkan,” Igor melanjutkan.

Dia mengisahkan, betapa kuatnya relawan dan logistik anggaran yang di miliki calon dari petahana gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, bahkan di dukung tim buzzer IT yang memadai  dan sumber dana dari sembilan naga yang melimpah, akan tetapi hasil akhir Ahok membuat sejumlah relawannya menjadi shok, karena diluar prediksi. Dan harus diakui bahwa Ahok kalah telak oleh pasangan Anies-Sandi yang memang sebelumnya kurang mendapatkan respon dari lembaga survei.

“Padahal kita tahu, kinerja Ahok sangat luar biasa, dan kalau dibandingkan dengan seorang petahana Kota Bekasi sangat tidak berbanding lurus, sangat jauh perbedaaannya. Baik pembangunan infrastruktur, semangat dan etos kerja ASN di DKI banyak mengalami perubahan. Jadi ada beberapa hal yang membuat calon dari petahana keok,” tegas Igor.

Kemudaian kepala daerah lain dari petahana yang juga dikalahkan, seperti Rano Karno saat Pilkada Banten. Padahal, jelang Pilkada, melalui jaringan stasiun TV swasta Film “Si Doel Anak Sekolah” terus di putar, hal itu dimaksudkan agar masyarakat dapat mereview kambali sosok Rano Karno yang juga calon gubernur tersebut.  Tapi dia dikalahkan juga oleh Wahidin yang popularitasnya tertinggal jauh.

Jadi kesimpulannya, lanjut Igor, adalah potensial menang buat petahana betul, tapi bukan tidak mungkin untuk dikalahkan. Dan sekarang bukan era nya lagi survei dipasangkan dengan siapa saja pasti jadi.

“Yang paling penting begini, dalam survei itu tidak bisa berpatokan pada saat itu, karena  seminggu kemudian juga bakal berubah. Jadi perilaku pemilih juga harus dilihat margin erronya. dan tidak kalah penting swing voter. Terkait dengan popularitas Rahmat Effendi tentu betul, karena selama ini sering melakukan pertemuan dengan berbagai kegiatan pemerintahan kemudian dia sering diliput media, akan tetapi tentu masyarakat akan mengevaluasi seberapa jauh kinerjanya,” katanya.

Ada beberapa aspek yang harus di pahami oleh calon petahana, diantaranya swing voter, (pemilih yang sangat mungkin bakal berubah) dan strong voter, (pemilih yang kuat) dan tidak berpindah ke calon lain.

“Jangan-jangan saat survei hanya melihat pemilih lemah saja. Karena saat ini belum ada calon dari partai lain yang menyatakan diri mendeklarasikan bakal maju di Pilkada Kota Bekasi, saat ini publik pun hanya tahu satu kandidat saja. Maka wajar saja pak Rahmat Effendi itu unggul dalam popularitasnya. Ketika nanti ada calon lain yang mendeklarasikan dengan pasangannya, tentu hasil survei itu akan berubah,” pungkasnya. (Yan/Chep)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here