Pengamat: Ujaran Kebencian Menciptakan Politik Identitas Tidak Sehat

0
209
Pengamat Politik Universitas Jayabaya, Igor Dirgantara.

JAKARTA (Garudanews.id) –  Ujaran kebencian acapkali muncul dalam kontestasi persaingan politik di Pilkada. Pada akhirnya, dapat menciptakan politik identitas tidak sehat. Karena, dalam kompetisi Pilkada, pertarungan sangat ketat bagaimana memenangkan pertarungan untuk merebut kekuasaan.

Pengamat Komunikasi politik Universitas Jayabaya Igor Dirgantara melihat dua hal terkait ujaran kebencian. Pertama, ujaran kebencian dilontarkan untuk meningkatkan elektabilitas pihak A. Disamping itu, menurunkan elektabilitas lawan politiknya. Kedua, ujaran kebencian dapat menguntungkan si penyebar isu tersebut atau umumnya Playing Victim (Strategi busuk untuk menjatuhkan lawannya).

Ia mencontohkan pada kasus cyber army dimana telah terbukti bahwa tidak hanya dilakukan oleh aktivis muslim radikal.

“Tetapi bisa juga disusupi agar ruang tembaknya kepada muslim army itu sendiri,” ujar Igor kepada garudanews.id di Jakarta, Sabtu, (5/5)

Contoh lainnya, pada Pilkada DKI Jakarta terkait sentimen agama. Isu sentimen agama itu dimunculkan untuk menyerang atau membuat publik tersadar bahwa ada politik identitas tidak sehat.

“Korbannya akan diuntungkan. Publik akan lebih simpati kepada korban (Playing victim),” ujar Direktur Survei dan Polling Indonesia (SPIN) ini.

Kendati begitu, Igor meminta kepada aparat hukum agar lebih jelih melihat kasus ujaran kebencian.

“Jangan tebang pilih, jangan mentang-mentang tidak pro kepada pemerintah,” ujarnya. (Dhr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here