Peringatan Dini Tsunami di Indonesia Dinilai Masih Kurang Handal

0
82
Dampak gempa dan tsunami di Palu (ist)

JAKARTA (Garudanews.id) – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh Teuku Ahmad Dadek mengatakan, Indonesia Ealy Warning System (InaTEWS), merupakan sebuah sistem yang dibangun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyangkut peringatan tsunami, namun cara kerja alat ini dianggap masih kurang sempurna.

“Saat ini InaTEWS punya sedikit masalah, sistem nya masih kurang handal untuk wilayah yang rawan bencana tsunami,” kata Teuku Ahmad Minggu (7/10).

Menurutnya, selama ini, ada tiga komponen yang digunakan BMKG dalam menghitung gempa, yakni, komponen sesmograf (mencatat skala gempa), Tide Gauge (petunjuk pasang surut air laut), dan BUOY (mendeteksi ketinggian gelombang air laut saat terjadi tsunami).

Data dari komponen tersebut yang selama ini dipakai BMKG untuk mendapat informasi tsunami di seluruh Indonesia termasuk Badan Penanggulangan Bencana Aceh, selanjutnya dikirim peringatan dini ke masyarakat, namun masalahnya, BUOY yang digunakan untuk mendeteksi ketinggian gelombang air laut saat terjadi tsunami, sudah banyak yang hilang.

“Di seluruh wilayah Indonesia ada sekitar 22 BUOY, namun banyak yang sudah hilang, karena posisinya pun diletakkan ditengah laut,” terang Dadek.

Persoalan lainya menurut Dadek, di tahun 2007, InaTEWS yang ada di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar pernah hidup sendiri, sehingga membuat warga panik. Juga terjadi ketika gempa 11 april 2012 di Banda Aceh, yang berpotensi tsunami, namun tidak dapat direspon BPBA, lantaran posisi sirine berada di kantor Pemerintah Aceh, sehingga membuat BMKG tidak lagi menghidupkan InaTEWS di tingkat daerah, namun dipindahkan ke tingkat nasional, di Jakarta.

“Persoalannya, kalau dihidupkan di Jakarta, setelah 60 menit terjadi tsunami, sirune peringatan stunami baru hidup,” kata Dadek.

Ia menambahkan, Di Provinsi Aceh sendiri, setiap tanggal 26 Desember, peringatan tsunami ditandai dengan membunyikan sirine dengan jarak suara mencapai 700 Meter dari pusat. Padahal, kekuatan sirine bisa mencapai 2,5 Kilometer atau disebut Real Son, namun tidak bisa lagi digunakan pada jarak Real Son lantaran cip sudah rusak dan tidak diproduksi lagi.

Untuk mengatasi itu, ada sejumlah menara sirine yang dibangun di beberapa tempat lain di Aceh, namun juga tidak berfungsi lantaran tidak pernah masuk dalam uji coba seperti yang dilakukan BPBD setiap 26 Desember.

“Tidak pernah difungsikan seperti yang kita lakukan sekarang, namun itu berbahaya karena kami juga tidak sanggup merawatnya lantaran biaya perawatan mahal, selama ini dirawat oleh pihak ketiga,” pungkasnya.

Dadek juga mengingatkan, agar masyarakat segera meninggalkan daerah pantai jika terjadi gempa dengan kekuatan di atas tujuh skala richter, tanpa peduli adanya peringatan tsunami dari BMKG.

Untuk masyarakat Aceh yang belum pernah merasakan gempa, juga diimbau jangan menganggap sepele, karena seluruh wilayah di Aceh memiliki potensi gempa besar, untuk itu iamenyarankan bangunan yang dibangun harus tahan gempa, dan peralatan rumah tangga juga tidak berlebihan.

“Gempa tidak membunuh, yang membunuh itu gaya hidup kita yang tidak ramah terhadap gempa,” tegasnya. (mna/rel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here