Polda NTT Segera Tahan Pelaku Human Trafficking

0
520
Polda NTT (ist)

KUPANG (Garudanews.id) – Penyidik Polda Nusa Tengga Timur (NTT), agendakan penahanan Hermes Killa (HK) Kepala Desa Lima Koli. Kecamatan Rote Tenggah diduga pelaku penjualan orang (human trafficking) demikian diungkapkan penyidik polda NTT, Rudolf kepada media ini, Selasa (11/7)

Sebelumnya diberitakan media bahwa keluarga korban traficking menilai penyidik tidak serius dalam menangani kasus Trafficking.
Hal itu terungkap, bahwa saat ini pelaku yang juga menjabat sebagai Kepala Desa, masih bebas berkeliaran. Sang pelaku, Hermes Killa (HM), kini menjabat sebagai Kepala Desa Limakoli, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao.

Bukan itu saja, pelaku sebelumnya diberitakan sejumlah media lokal di NTT dan nasional, yang bersangkutan tidak mengindahkan panggilan pihak penyidik Satuan Reskrim Umum dan kriminal Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). padahal, pihak Polda NTT, telah melayangkan Surat Panggilan Kepada Hermes Killa alias (HM) karena diduga terlibat dalam tindak pidana Human Trafficking, yang korbannya adalah anak di bawah umur berinisial NH alias bunga yang baru berumur empat belas tahun.

Penyidik kasus Trafficking Polda NTT, Rudolf  saat ditemui Garudanews.id, baru-baru ini dengan nada kesal  mengatakan bahwa   kasus human trafficking yang dilaporkan  oleh Jonatan Hailitik adalah ayah kandung korban NH sendiri alias bunga saat ini masih dalam tahap pengembangan oleh pihak penyidik reskrim Polda Nusa Tenggara Timur.

“Bahwa pada Jumat  (3/5) Hermes Datang menghadap di Polda NTT untuk di periksa oleh pihak penyidik polda NTT, Hermes Killa di periksa sesuai Laporan dari Orang Tua Korban dan sesuai tanda bukti sutat dan paspor,” ujar Rudolf.

Menurutnya, berdasarkan pengembangan,Hermes Killa, alias HN,  terduga Human Trafficking anak dibawah umur ini  berperan sebagai agen perekrut dari PT Putra Para Utama Karya Cabang Kupang.

“Sesuai surat permohonan  PJTKI.Nomor : 68/ CBG – NTT / PPUK/VIII/2007. Dengan ini menyampaikan bahwa PJTKI/cabang PJTKI tersebut diatas berdasarkan SIP dan Rekomendasi Rekrut yang di milikinya telah mekaksanakan rekrut CTKI bersama-sama/dengan di ketahui instansi yang membidangi ketenagakerjaan di Kupang. Selanjutnya cabang PJTKI tersebut diatas memberangkatkan CTKI di maksud Sebanyaj 39 (tiga puluh sembilan) orang sebagai daftar terlampir dari kupang ke BLKLN/ pusat PJTKI tersebut di jakarta untuk mengikuti pelatihan ketrampilan dalam proses ppenempatanya untuk bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT),” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, berikut korban yang telah berhasil diidentifikasi oleh pihak penyidik sebanyak 39 orang yakni Naomo Hailitik (korban) MB (FBU), MC, RB, EDS (16), VDS (18), SM.P, AN, , LN, YPR, YM, FY, CK, EFA, MS, RI, RT, RT, DK, EM, AN, YS, YB, KH, JL, DO, MS, LFL,EDN, MVM,AFH,YM,EM,MK,FD,YYDS,SS,SDS,YAF.

Sementara itu, Jonathan Hailitik, ayah kandung korban human trafficking di bawah umur mengaku  bahwa entah ada alasan apa yang tidak jelas, dengan tiba-tiba Hermes Killa alias meminta kepada dirinya agar secepatnya ke Polda NTT untuk menarik Kembali kasus human trafficking yang di laporkan oleh dirinya.

Menurutnya, sejauh ini, keseriusan pihak polda NTT dinilai sangat lamban memberantas kasus human trafficking ini yang di alami oleh anaknya

“Kami menilai Polda NTT lamban dalam menangani kasus ini,  untuk itu kami  berharap agar dukungan pemerintah provinsi  NTT melalui dinas teknis di lingkup Pemerintah Provinsi NTT untuk membantu keluarga korban untuk mendorong polda NTT untuk menuntaskan kasus ini,” cetusnya.

Sementara itu, Lepala Bidang Humas Polda NTT, AKBP Juleas Abast saat dihubungi mengaku tidak tahu, bahkan kembali menanyakan wartawan “kasus trafiking yang mana dan siapa pelakunya” tetapi ia berjanji akan melakukan koordinasi dengan penyidik jika ada kasus tersebut.

“Nanti saya cek ke penyidik trafficking kalau ada kasus tersebut,” katanya.

Terpisah, penyidik Polda NTT Rudolf, saat kembali di konfirmasi pada Rabu, (21/6) terkait kasus trafiking, pihaknya telah melayangkan surat pangilan kepala sang kepala desa, namun ia berdalih kepala desa masih ada pertemuan hingga saat ini belum memenuhi pangilan penyidik. (Dance Henukh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here