Polemik Pergantian Nama Bandara Internasional Lombok Kian Meruncing

0
158

MATARAM (Garudanews.id) – Polemik perubahan nama Bandara Internasional Lombok ( BIL) menjadi ZAM Air Port dinilai bakal menjadi persoalan yang kontraproduktif jika terjadi pembiaran tanpa titik temu

Persoalan tersebut juga dinilai akan merugikan citra baik masyarakat Gumi Pair Lombok yang terkesan tidak kompak dan bersatu. Padahal sebagai pulau pulau seribu masjid, masyarakat harusnya bangga salah satu tokoh pahlawan nasionalnya diabadikan namanya dalam prasasti Bandara Internasional ZAM .

“Aksi pro-kontra, jika tidak ada penyelesaian secara holistik dan kultural akan merugikan semua pihak yang bersengketa. Stigma lama bahwa masyarakat Lombok sulit bersatu dan mudah dipecah belah semakin kuat pembenarannya,” ungkap Lalu Andi Sumantri, salah satu tokoh Loteng NTB, Jumat (14/9)

Mamiq Andi mengaku prihatin urusan penggantian nama bandara internasional Lombok diributkan secara terbuka. Padahal dengan perubahan nama tersebut, secara religius dan kultural ada penghormatan kepada ketokohan TGH Zainuddin Abdul Majid sekaligus wujud Bhakti warga Gumi Pair menghormati peran kepahlawanan dan perjuangan TGH Zainuddin Abdul Madjid.

“Sebagai Umara tidak ada yang salah dalam pengabadian nama TGH Zainuddin Abdul Madjid sebagai nama bandara internasional di pulau Lombok,” ungkapnya.

Mamiq Andi menambahkan dirinya merasa kuatir jika polemik ini tidak ditangani secara bijaksana oleh para stakeholder yang terlibat. Segresi sosial ini akan menjadi pintu masuk timbulnya konflik horizontal yang lebih masiv.

“Untuk itu pemerintah segera turun tangan menenangkan situasi meregangnya sosial kemasyarakatan yang sedang menyimpan bara api ini,” bebernya.

Moderasi Ekskalasi Konflik

Sementara itu tokoh Pemuda Milineal lintas ummat , Sudirman Harianto melihat kecendrungan meluasnya ekskalasi konflik pro kontra soal isu bandara diduga atau ditengarai faktor X dibalik isu ini. Hal ini terlihat dari tampilnya sejumlah tokoh elit yang tidak bebas kepentingan dalam menggalang euphoria psykologi massa dengan jargon -jargon perlawanan.

“Segera melakukan moderasi ekskalasi konflik penting dilakukan agar tidak menjadi bola liar yang tidak bisa dikontrol,” tambahnya.

Dia menduga, perluasan konflik isu bandara ini terlokalisir diseputaran kalangan tokoh dan elit yang saling berseberangan sikap dan pendapat. Sementara itu posisi tawar rakyat diduga hanya dijadikan landasan legitimasi.

“Massa Rakyat sebagian besar diorganisir secara instan, mereka bergerak bukan atas kesadaran indegenous dalam memahami peta masalahnya,” paparnya.

Menurutnya, dalam konflik ini yang “bertempur wacana” hanya sebatas elit politik. Proses penyelesaian atau mediasi konfliknya lebih mudah terlokalisir karena tanpa melibatkan kekuatan rakyat dalam arti sesungguhnya.

“Model penyelesaian sangkep mencari titik temu diantara para elit penting dikedepankan secara adil dan transparan untuk mengurai permasalahan dari semua aspek,” pungkasnya. (Her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here