Sidak Dinas LH Kota Bekasi, Tujuh Perusahaan Bermasalah Dalam IPAL

0
751
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Masriwati di sela-sela Sidak tahap dua, Kamis (28/09).

KOTA BEKASI (Garudanews.id) –  Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Bekasi melakukan inspeksi mendadak (Sidak) kepada perusahaan yang berpotensi mencemari lingkungan. Sebanyak tujuh dari 20 perusahaan industri yang berdiri di sepanjang bantaran Kali Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengalami permasalahan dalam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sehingga berpotensi merusak lingkungan.

“Dari 20 perusahaan ini terdeteksi oleh petugas lapangan kami yang melakukan pengawasan intensif dalam dua pekan terakhir, tujuh di antaranya sudah kita datangi untuk mengecek IPALnya,” kata Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Masriwati di sela-sela Sidak tahap dua, Kamis (28/09).

Menurut Masriwati, pengecekan IPAL oleh pihaknya terhadap 20 perusahaan yang berpotensi mencemari lingkungan baru dilakukan dalam dua tahap Sidak yakni pada Rabu (27/09) dan Kamis (28/09). Sebanyak lima perusahaan di antaranya PT Prima Kemasindo, PT Pratama Prima Bajatama, PT Asmar Nakama Partogi, PT Karya Indah Multiguna dan PT Tirta Cahaya Gemilang telah melalui proses pengecekan IPAL pada Rabu (27/09). Hasilnya, kata Masriwati, IPAL di PT Prima Kemasindo yang memproduksi air kelapa di Kecamatan Bantargebang dipastikan pihaknya bermasalah pada sistem IPAL, sehinga diduga limbah hasil produksinya dibuang ke lokasi terlarang atau kawasan sekitar berupa Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi.

“Untuk PT Prima Kemasindo kita stop sementara IPAL-nya sampai pihak manajemen menyempurnakan IPAL-nya,” ujarnya.

Sedangkan empat perusahaan lainnya, lanjut Masriwati, saat ini dalam proses pembinaan untuk menyempurnakan pengendalian limbahnya.

“Ada juga yang sudah betul-betul bagus IPAL-nya, jadi hanya kita beri pembinaan saja,” terangnya.

Sementara itu dalam agenda Sidak yang berlangsung, Kamis (28/09), sambung Masriwati, pihaknya mendatangi dua perusahaan yakni PT Mikie Oleo di Jalan Cipendawa, Kecamatan Jatiasih dan PT Jeil Indonesia di Jalan Siliwangi, Kecamatan Bantargebang. Menurut Masriwati, persoalan yang dialami PT Mikie Oleo berupa operasional produksi minyak nabati di tengah ketidaksiapan IPAL yang kini dalam tahap penyempurnaan.

“Perusahaan Oleo ini baru berjalan pada Agustus 2016, sehingga IPAL yang mereka miliki belum berfungsi optimal. Instalasi itu terpaksa kami hentikan sementara sampai proses penyempurnaan selesai,” terangnya lagi.

Adapun persoalan yang dihadapi PT Jeil adalah ketiadaan IPAL yang memaksa menejemen perusahaan jasa sablon dan bordir itu menjalin kerja sama dengan swasta dalam pengolahan limbah berbahayanya.

“Namun saat kita tanya ke mana limbahnya dibuang, mereka hanya mengatakan dikerjasamakan dengan pihak ketiga, saat kita tanya buktinya, mereka tidak bisa menunjukan bukti transaksi maupun foto kegiatannya,” pungkasnya.

Kepala Dinas LH Kota Bekasi Jumhana Luthfi menambahkan, kegiatan sidak terhadap 13 perusahaan lainnya akan dilakukan dalam waktu dekat menyusul makin parahnya pencemaran limbah di Kali Bekasi.

“Masih ada 13 perusahaan lagi yang akan kami sidak dalam waktu dekat. Sebab tingkat baku mutu air Kali Bekasi saat ini sudah melebihi ambang batas kewajaran,” tandasnya. (Adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here