Tampilkan Alat Musik Khas Sunda, Iman Jimbot Pukau Warga Inggris

0
222
iman jimbot di london (ist)

LONDON (Garudanews.id) – Di tengah suasana Idul Fitri 1439H, silaturahim hari kemenangan itu dilakukan di Wisma Nusantara, kediaman resmi Duta Besar Indonesia di London, Inggris. Namun ada yang beda, lebaran kali ini sekaligus mampu mengobati rasa rindu akan tanah air.

Senin (18/6) siang yang hangat waktu setempat itu, sajian khas makanan hari raya pun ada untuk dinikmati oleh kurang lebih 1.600 pengunjung tersebut. Ada opor ayam, rendang, lontong, ketupat, kerupuk, dan es campur.

Yang berbeda, kali ini Seniman Sunda Iman Jimbot menjadi pengisi acara pertama dalam silaturahim tersebut. Tampil dengan dukungan tim seniman dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Jimbot menampilkan musik khas Sunda berbasis kecapi, suling, degung, dan kendang.

Menariknya, aransemen musik yang disajikan Jimbot sangat apik dengan perpaduan suara lembut para penyanyi serta gerakan meliuk-liuk para penari. Grup Jimbot membuka acara dengan membawakan sejumlah lagu Sunda Islami.

Ada sajian lagu Subhanallah, Tahmid, dan Selamat Hari Lebaran. Pertunjukan kemudian berlanjut dengan membawakan komposisi untuk lagu Saleum dari Aceh, Overture, Fragile karya Sting yang dipadu dengan Kulu-Kulu Gancang, dan Tari Gawil.

Hingga Ronggeng Gunung, Rampak Kendang, dan English Man in New York. Tentu saja itu adalah salah satu garapan unggulan Jimbot Madenda.

Suasana meriah dengan alunan irama Tatar Parahyangan sangat jelas terdengar. Yang membuat sajian grup Jimbot ini menarik bukanlah pilihan lagu yang dimainkan. Namun paduan aneka irama tetabuhan dan musik berbasis Sunda dengan instrumen musik Barat seperti gitar dan biola.

Ini bukanlah kali pertama Jimbot bereksperimen memadukan irama dari alat-alat musik itu. Setiap kali dia melakukan eksperimen dan eksplorasi baru dalam setiap komposisi, maka setiap itu pula dia mampu menghasilkan perpaduan harmoni yang unik dan menarik serta pantas dinikmati.

Di segmen kedua tampil seniman Sunda serba bisa, Lili Suparli bersama dengan Rudi Mukhram. Kedua seniman yang sedang mengikuti program Residensi kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI London di Universitas Goldsmiths ini membuka pertunjukan dengan sajian wayang golek.

Banyolan tokoh si Cepot dan Dawala berhasil mengocok perut para hadirin. Si Cepot pun mengundang kehadiran seorang penyanyi Cianjuran murid kakasih Ibu Euis Komariah (alm), yakni Hendrawati yang dikenal sebagai penembang Cianjuran penerus gurunya.

Penampilan menawan Hendrawati yang apik tersaji lewat kolaborasi iringan kacapi indung yang dimainkan suaminya, Matt. Dengan membawakan lagu yang sangat menyentuh rasa tentang keindahan alam Pasundan penampilan mereka melengkapi kesempurnaan sajian aneka seni kebanggaan Jawa Barat.

Duta Besar RI di London, Rizal Sukma mengatakan bahwa penyajian seni Sunda kali ini benar-benar lengkap dan mampu menunjukkan kekayaan seni unggulan Jawa Barat. “Kecapi, suling, kendang, wayang golek, jaipong, dan Cianjuran, merupakan representasi keunikan dan keunggulan Jawa Barat, dan itu semua hadir di acara Silaturahim ini”, ungkapnya.

Kehadiran seniman Sunda di London kali ini memperoleh dukungan penuh dari KBRI London. Di bawah koordinasi Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud), E. Aminudin Aziz, tim Iman Jimbot dihadirkan di London dengan membawa beberapa misi kebudayaan.

Selain mengisi acara Silaturahim dan acara-acara lain di KBRI, tim seniman Iman Jimbot juga akan hadir dalam berbagai acara workshop kecapi, suling, dan kendang di School of Oriental and African Studies (SOAS), Universitas Birmingham, sekolah-sekolah dasar dan menengah di Brentwood. Serta pertunjukan amal di St Mary’s Music Hall, Walthamstow, salah satu tempat yang biasa digunakan para musisi Inggris.

Menurut Aminudin, seniman Sunda Iman Jimbot ini sengaja dihadirkan untuk menyemarakkan dan menambah khazanah pengetahuan orang Inggris tentang seni budaya Indonesia di sini. “Selama ini hanya mengenal gamelan. Oleh karena itu, tema dan tempat acara dipilih beragam agar bisa masuk ke berbagai lapisan masyarakat setempat,” ungkapnya.

Hadir dalam acara tersebut perwakilan Havering Music School (HMS), yakni Gary Griffiths dan Paul Smith. Dalam program residensi seniman angklung di sekolahnya, HMS bermitra dengan KBRI melalui kantor Atdikbud sejak tahun 2018 ini.

Bagi Iman Jimbot, pagelaran di London kali ini merupakan pemenuhan hasratnya terpendam sejak pertunjukan pertamanya pada acara Indonesia Weekend 2016 di Potters Field. Kala itu, Jimbot tidak merasa tampil optimal, walaupun pengunjung lebih dari 50.000 orang.

“Waktu itu, saya belum merasa lengkap, akibat keterbatasan personil seniman yang bisa saya bawa. Oleh karena itu, kali ini saya merasa punya kesempatan kedua untuk tampil lebih baik dan utuh di hadapan publik Inggris,” ungkap Jimbot.

Misinya, lanjut Jimbot adalah membawa seni Sunda khususnya dan Indonesia pada umumnya ke tataran global bisa kami penuhi. “Target kami adalah Ti Sunda ka Jomantara, Ti Indonesia ka Jomantara, ‘Dari Sunda ke Dunia Global, Dari Indonesia ke Dunia Global”, pungkasnya penuh semangat.

Baik Paul dan Gary menyatakan kekagumannya menyaksikan kehebatan dan keunikan sajian para seniman Sunda itu. “Kami tidak pernah mengira bahwa orang Indonesia, orang Sunda memiliki jenis seni musik, tari, dan drama yang sangat menarik ini,” ungkap keduanya.

Pujian juga datang dari Rossy dan Endang yang sudah menetap puluhan tahun di Inggris. “Ini sangat menyenangkan sebab rasa kangen benar-benar terobati. Gak pulang kampung pun tetap bisa menikmati suasana kampung halaman di sini,” tuturnya. (Gtr/Lya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here