Tebang Puluhan Ribu Pohon Milik Warga, Pihak PLN Dituntut Ganti Rugi

0
555
Viktor Lerik , Anggota DPRD Propinsi Nusa Tenggara Timur, NTT Pose Bersama Toko Adat Dusun Oendule Desa Lidamanu..

ROTE NDAO (Garudanews.id) –  PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) area Kabupaten Rote Ndao, belakangan ini terus mendapat sorotan masyarakat. Permasalahan terbaru adalah banyaknya keluhan warga seputar pemangkasan hingga penebangan pohon milik warga yang dinilai mengancam atau berpotensi mengganggu jaringan listrik PLN.

Namun sayangnya pemangkasan atau penebangan sejumlah pohon milik warga tidak ada kompenasai dari pihak PLN itu sendiri.Akibat kebijakan itu, warga dan tokoh masyarakat yang merasa dirugikan itu mengaku geram dengan PLN.

Karena merasa dirugikan, akhirnya sejumlah masyarakat yang diwakili tokohadat itu pun akhirnya mengadukan persoalan tersebut ke wakil rakyatnya di DPRD Kabupaten Rote Ndao.

“Pihak PLN sudah ditebang sekira 1000  pohon, Mereka khawatir nanti pohon saya yang lain juga akan ditebang dengan alasan pemindahan jalur atau jaringan. Apalagi sekarang ada pelebaran jalan,” jelas Gasper Ambesa bersama Dengan Bebetapa Toko Adat dan Masyarakat Desa Lidamanu Oendule dan Desa Limakoli. Saat mengadukan persoalan tersebut kepada Anggota DPRD Provinsi Viktor Lerik, Rabu (7/11).

Kepada Viktor Lerik, sejumlah tokoh meminta agar dapat memfasilitasi mereka untuk mendapatkan kompensasi dari pihak PLN terkait dengan ribuan pohon milik masyarakat yang sudah  ditebang oleh pihak PLN Rote Ndao.

”Kami tidak khawatir pak, sekarang sudah ribuan pohon Jati pohon lontar , pohon mangga dan mahoni milik kami masyarakat di Dusun Oendule ini yang berumur lima hingga enam tahun yang dipotong. Jika satu pohon saja harganya Rp15 ribu, hitung saja sendiri kerugian kami.  Hanya karena mereka pindahkan jaringan, bisa-bisa semua pohon yang kami masyarakat punya di pinggir jalan habis di tebang tanpa ada pembicaraan yang jelas,” keluh dia.

Gasper Ambesa menceritakan kemarahannya kepada pihak  PLN, karena pohon lontar yang saat itu tengah dinaikin untuk diambil airnya tiba-tiba petugas PLN meneriakinya agar segera turun karena pohon akan ditebang.

Menanggapi persoalan tersebut, Viktor Lerik menjelaskan bahwa sebenarnya setiap penebangan pohon milik masyarakat itu ada uang ganti ruginya. Karena hal itu, kata dia, telah mendapatkan persetujuan dari DPRD provinsi.

“Kami telah menyetujui anggaran yang diajukan pihak PLN untuk pergantian pohon warga yang terkena jalur PLN.  Adapun berdasarkan kesepakatan yang di setujui untuk pembayaran pohon warga yang di tebang oleh pihak PLN satu pohon jati yang di tebang harus bayar dua juta rupiah. Dan untuk pohon lontar yang di tebang harus pihak PLN membayar uang lima belas juta rupiah,” ungkapnya.

Namun sayangnya, hingga berita ini diturunkan terkait dengan persoalan penebangan pohon milik warga, pihak PLN Ranting Kabupaten Rote Ndao yang bertanggungkjawab terhadap jaringan di wilayah desa Lidamanu dan desa Limakoli Kecamatana Rote Tengah, yang dikonfirmasi media ini belum ada respon. (Dance)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here