Telah Dinyatakan P21, Penyidik Polri Serahkan Kasus Dweling Time Pelindo III

0
490
Abdul Salam (Kuasa Hukum Tersangka)

Surabaya (Garudanews.id) – Tim penyidik Mabes Polri menyerahkan barang bukti dan kelengkapan berkas tersangka yang telah dinyatakan P21 terkait dengan oprasi tangkap tangan (OTT) yang melibatkan Dirut Pelindo III ke Kejaksaan Tinggi Surabaya.

“Barang Bukti yang diserahkan berupa buku rekening atas milik Direktur PT Akara Augusto Hutapea dengan nilai dana yang di gunakan 1,5 Miliar dimana ditemukan aliran dana ke Rekening Djarwo Surjanto,” ungkap Dittipideksus Bareskrim Mabes Polri, AKP Benny Marbun, di Surabaya Kamis (2/3).

Menurut Benny dalam kasus dweling time di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pihaknya telah menetapkan
7 tersangka. Tersangka di jerat dengan pasal pemerasan dan pencucian uang.

“Ketujuh tersangka, diantaranya, Djarwo, istrinya, Rahmat Satria, Firdiat Fiman, Augusto dan David. Barang bukti yang diserahkan rekening atas milik Direktur PT Akara nilanya dana yang di gunakan 1,5 miliar. Ketujuh tersangka itu dikenai pasal pemerasan,” ungkapnya.

Pihaknya juga telah menyerahkan barang bukti atau berkas dan tersangka Augusto Hutapea Direktur PT. Akara tersangka Firdiat Firman Manager Oprasional PT. Pelindo Energi Logistik yang merupakan perusahaan dibawah PT Pelindo III Surabaya. Dan tersangka Rahmat Satria Direktur Operasi dan Pengembangan Bisnis PT.Pelindo III Surabaya.

Sementara, Kuasa Hukum tersangka kasus pungli yang juga mantan Direktur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto dan istrinya Mieke Yolanda pada Kamis pagi mendatangi kantor Kejaksaan Negeri Tanjung Perak Surabaya. Kuasa Hukum tersangka, memohon agar kliennya ditangguhkan penahanannya, mengingat kesehatan kliennya terus menurun.

Menurut Abdul Salam (Kuasa Hukum Tersangka) secara kemanusiaan pihak Kejaksaan harus mempertimangkan. mengingat kedua tersangka itu adalah pasangan suami istri. Dan tentunya mempengaruhi mental phisikologisnya.

“Persoalannya yang ditahan itu suami istri di tahan, jadi pasal yang di tuduhkan pencucian uang, pungli. Sementar beliau kondisi ekonominya cukup, gak mungkin melakukan itu. Terkait dengan permohonan penangguhan penahanan kami sudah mengajukan ke Kejaksaan Agung. Semoga dua-duanya dikabulkan. Karena semua kewenangan ada di Kajagung. Dan kondisi klien kami terus menurun butuh perawatan,” ungkap Salam.

Diketahui, kasus pungli Dweeling Time ini bermula dari adanya operasi tangkap tangan. Dugaan pungli di Terminal Peti Kemas Surabaya pada bulan November 2016 yang lalu. Dan dari Tim Saber Pungli mengamankan Direktur dari PT Akara dan juga tersangka lainnya yang juga mendapat aliran Dana. Selama satu bulan perusahaan PT Akara berhasil meraup uang sebesar 6 Miliar rupiah dan praktik pungli sudah dilakukan sejak Tahun 2004 yang lalu. (Red/Hnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here