Terlambat Buka Sepatu, Markus Dianiaya Pimpinan Puskesmas

0
199
Luka memar di wajah Markus bekas penganiayaan.

TIMOR TENGAH SELATAN (Garudanews.id) – Markus Missa, warga Desa Saenam, Kecamatan Nunkolo, kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) babak belur dianiaya Kepala Puskemas Nunkolo, Alfian Kasse, saat mengantar istrinya, Antonia Nomlene, periksa kehamilan atau kandungan.

Kepada awak media, baru-baru ini Markus menceritakan kronologis peristiwa yang menimpa dirinya yang dilakukan oleh kepala Puskesmas Nunkolo, Alfian Kasse, ketika itu.

“Tanggal 25 Juni saya antar istri (Antonia) periksa kehamilan ke Puskesmas, sekitar jam 11, tetapi petugas katakan bahwa tidak bisa lagi karena sudah siang dan loket sudah tutup, kemudian saya bersama istri pulang,” kata Markus.

Lebih lanjut Markus menjelaskan, setelah pilkada serentak, tepatnya tanggal 29 Juni, Dia dan istrinya kembali menempuh jarak 30an Km untuk memeriksa kandungan Antonia yang sudah berusia 5 bulan, namun yang didapat bukan pelayanan kesehatan tapi bogem mentah sang penguasa Puskesmas.

“Tanggal 29 Juni Kami datang lagi ke Puskesmas, saat kami tiba sekitar Jam 9, petugas di loket mengatakan loket sudah tutup, saya minta tolong untuk istri saya dilayani karena kami sudah 2 kali datang, apalagi jarak kami dari desa yang sangat jauh, tetapi petugas tetap tidak mau,” kata Markus.

Kepada petugas loket, Markus mengatakan kalau istrinya sudah tidak bisa dilayani karena loket sudah tutup maka sebaiknya pintu Puskesmas ditutup saja.

Markus kemudian menutup pintu dan mengajak istrinya pulang, namun baru beberapa langkah, petugas tersebut memanggil Markus.

“Om mari dulu, saya punya bapa tua (kepala puskesmas) ada panggil”, ujar Markus menirukan ucapan petugas loket.

Mendengar panggilan tersebut, Markus mengatakan Ia sedikit lega karena yakin istrinya pasti dapat pelayanan kesehatan.

Markus pun bergegas menemui kepala puskesmas, namun menurutnya ketika tiba di ruangan, tiba – tiba Dia diamuk kepala puskesmas lantaran dianggap tidak sopan karena tidak melepas sepatu yang dikenakannya.

“Biadab, kurang ajar, binatang, kau tidak sopan,” ujar Markus menirukan umpatan Kepala Puskesmas.

Lebih lanjut Markus mengatakan, Ia kemudian meminta maaf dan langsung membungkuk dan membuka sepatu yang digunakan kemudian dibuang keluar.

Baru satu sepatu yang berhasil dibuka dan dibuang keluar, lanjut Markus, tiba – tiba seorang bidan datang dan mengamuk karena menganggap Markus tidak sopan dengan melempari mereka sepatu, padahal menurut Markus, sepatu yang dibuang keluar jatuh dihalaman.

“Kepala Puskesmas kemudian bangun dan langsung pukul saya pas di pelipis, kemudian dia hajar terus sampai saya tidak berdaya, kemudian stafnya datang dan semua ambil bagian sampai saya mandi darah,” jelas Markus.

Menurut Markus, Ia beruntung karena ada seorang anggota Pospol yang datang dan mengamankannya ke pospol dan selanjutnya dibawa ke Polsek Oinlasi.

“Saya sudah visum dan diambil BAP, tapi sampe hari ini pelaku belum ditangkap, bahkan menurut pak Kapolsek hasil Visum belum ada,” tandasnya.

Seorang kerabat Markus, Zet Missa, mengatakan, pihaknya kecewa karena hingga saat ini kasus tersebut seakan diabaikan.

“Pelakunya sudah jelas tapi kenapa tidak ditahan. Kami tidak tahu jalur mana yang harus kami tempuh, kami mohon pihak penegak hukum bertindak tegas dan adil”, pungkas Zet Missa.

Dia berharap, proses hukum dapat berjalan dengan baik agar menimbulkan efek jera sehingga tidak akan terjadi lagi hal serupa di kemudian hari.

“Orang seperti ini tidak layak jadi pelayan masyarakat. Pak Polisi, Kami mohon usut sampai tuntas masalah ini,” pinta Zet tegas.

Kapolsek Amanatun Selatan, Iptu Ibrahim Tupong, ketika dihubungi wartawan via telepon selularnya mengaku sudah menerima laporan Markus Missa.

“Sudah pak, Kami sudah tindak lanjut dengan proses pemeriksaan para saksi”, jelasnya.

Hingga berita ini diturunkan Kepala Puskemas Nunkolo, Alfian Kasse, belum berhasil dikonfirmasi. (Dance)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here