Pengenalan Teknologi Pertanian dan Perikanan Masih Rendah

37

JAKARTA (Garudanews.id) – Ketua Dewan Pakar dan Pegembangan Ekonomi Koprasi Forum Bela Negara-Republik Indonesia (FBN-RI), Prof.Ir Muhamad Sudjana, Psd, sangat mendukung gagasan yang dilakukan oleh koprasi FBN.

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Koprasi FBN sebagai langkah maju dalam perkoprasian di Indonesia.

“Selama ini koprasi hanya bertumpu kepada penyaluran hasil produktivitas saja. Apa yang di lakukan FBN sangat berbeda, pola yang digarap dari hulu ke hilir, sehingga  tersistem dengan baik,” ungkapnya.

Menurut dia, Koprasi FBN merupakan cikal bakal benteng penopang perekonomian nasional.

“Dengan kekayaan alam kita yang melimpah, kenapa harus selalu import. Kami juga sangat prihatin kalau kebutuhan pokok saja yang masyarakat Indonesia sendiri sebenarnya bisa memiliki kemampuan tapi harus di datangkan dari luar. Ini tentu sangat ironis,” ujar Prof. Jana, yang juga menjabat sebagai dewan pakar FBN ini.

Sudjana berjanji, bahwa dengan kemampuan disiplin ilmu yang dimilikinya, dirinya siap membantu kaum nelayan dan petani untuk mengenalkan teknologi yang dapat membantu meningkatkan produktivitas nelayan maupun petani.

“Kami sepakat, kopradi FBN sebagai wadah benteng ekonomi rakyat harus mampu menggali potensi kekayaan yang dimiliki bangsa ini tanpa bergantung kepada asing,” jelasnya.

Sebelumnya, dalam sebuah diskusi, Ketua Koprasi Forum Bela Negara-Republik Indonesia (FBN-RI), Eddi Yusuf, merasa prihatin dengan kondisi perekonomian bangsa Indonesia yang tahap pertumbuhannya dinilai masih lamban. Hal itu terjadi, kata dia, dikarenakan belum maksimalnya pemanfaatan ekonomi dari sektor pertanian dan perikanan.

“Ini tentunya harus bisa menjadi perhatian serius pemerintah. Karena dari hasil kunjungan Tim kami dari Koprasi FBN, ke beberapa wilayah di Indonesia, masih banyak para nelayan dan petani belum dapat menggali potensi alam maupun laut yang dimiliki bangsa ini. Padahal, kekayaan kita sangat berlimpah, tapi pola yang dilakukan masih tradisional,” ungkap Eddi Yusuf, ketika diwawancarai oleh sejumlah media di Jakarta, Rabu, (15/11).

Menurut Eddi, masih banyanya petani maupun nelayan menggunakan cara-cara tradisional dikarenakan minimnya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah tentang pemanfaatan teknologi yang cepat guna dan tepat sasaran.

“Coba saja kalau para nelayan misalnya, kita kenalkan dengan teknologi penangkapan ikan secara moderen tentu akan meghasilkan tangkapan ikan yang maksimal. Dan secara otomatis, akan meningkatkan tarap hidup ekonomi masyarakat nelayan,” ujar Eddi.

Untuk itu, sebagai Ketua Koprasi FBN-RI, dirinya berkomitmen membantu pemerintah untuk segera melakukan pembinaan ke beberapa kelompok nelayan dan petani diseluruh Indonesia guna terciptanya tarap hidup ekonomi para petani dan nelayan.

“Kami pun dalam waktu dekat akan melakukan kerja sama ke beberapa perguruan tinggi di Indonesia untuk membuat kajian. Termasuk menggandeng para ilmuan dan para pakar yang mampu dibidang pertanian dan perikanan untuk mendorong agar pemanfaatan teknologi dapat diterapkan kepada kaum nelayan dan petani,” terang pria yang gemar bercocok tanam ini.

Sebagai bentuk kongkritnya, kata Eddi, pihaknya telah berkoordinasi ke seluruh cabang koprasi FBN-RI yang tersebar di Indonesia, untuk melakukan sosialisasi ke para petani dan nelayan.

“Ini sebagai bentuk dukungan kami kepada program Nawacita yang di usung pak Jokowi. Karena kalau sektor pertanian dan perikanan kita berkembang pesat, tentunya bangsa kita tidak harus mengandalkan komuditas import. Karena negara kita sudah mampu dalam kemandirian ekonomi,” pungkasnya. (Jim)

 

Anda mungkin juga berminat