Restorasi Puncak 2016, Apa Resolusi di Tahun 2017

82

Bogor ( Garudanews.id ) – Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, bisa jadi menjadi salah satu contoh kota dengan Multy Dimensi Problem. Sebutan Puncak mengakar pada 3 kecamatan yaitu, Kecamatan Ciawi, Megamendung dan Cisarua.

Keindahan alam dan kedekatannya dengan ibukota menjadikan perubahan besar dalam kurun waktu 3 dekade terakhir. Dari mulai perubahan alam, Sosial, ekonomi , dan budaya.

Dalam hal perubahan Alam, terjadi perubahan besar-besaran terhadap Perkebunan Teh, hutan, area Persawahan / perkebunan dan sungai. Penyusutan lahan perkebunan teh dalam kurun waktu 20 tahun terakhir diperkirakan mencapai lebih dari 1000 ha. Area tersebut meliputi dua kecamatan yaitu, Kecamatan Cisarua dan Megamendung. Pihak PTPN seolah tidak berdaya menghadapi serangan pemodal yang membeli lahan garapan dari para penggarap.

Pun demikian dengan lahan pertanian dan sungai, Banyak lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi pemukiman, Villa, Hotel, Restauran hingga tempat wisata.
Sungai pun tak luput menjadi korban. Banyaknya bangunan yang menjorok ke sungai, hingga terjadi penyempitan sungai sampai melimpahnya sampah padat maupun cair ke sungai.

Di bidang Sosial, maraknya wisatawan lokal maupun Mancanegara , khususnya Timur Tengah menjadikan lahan subur bagi dunia prostitusi. Tidak hanya PSK Lokal, PSK Maroko dan Magribi pun berebut kue “lendir” dari sini. Dari informasi yang ada, tak kurang dari 700 PSK lokal beraksi di wilayah Puncak. sementara angka PSK Maroko dan Magribi ada di angka puluhan.

Belum lagi padatnya hunian warga di Puncak, rata – rata satu RT di huni lebih dari 100 KK. Rata- rata luasan tiap RT berkisar 2- 4 Ha. Sehingga satu RT jumlah penduduknya bisa menjadi 300 – 500 warga. Rumah sempit berhimpitan, karena tidak urbanya warga puncak.
Ditambah lagi kedatangan urban dari daerah lain dan imigran.

Tentu potensi permasalahan kedepan akan lebih komplek. Menyangkut kesehatan, kesenjangan ekonomi, tersedianya hunian dan lain – lain.
Lalu di ruang Ekonomi perubahan mendasar terjadi pada perubahan mata pencaharian penduduk. Dari yang semula bertani dan atau bekerja di perkebunan, kini mayoritas bekerja sebagai pedagang, karyawan hotel/restaurant, Ojek hingga sopir.

Perubahan terbesar nampak pada tatanan Budaya. Hampir kita tidak bisa lihat lagi seni tradisi Sunda di Puncak. Upacara Adat hajatan yang biasanya kental dengan adat Sunda, kini sudah hampir tidak nampak. Warga yang hajatan mengambil cara praktisnya. Kecapi Suling atau Degung tidak terdengar biarpun hanya melalui CD. Hiburan lebih banyak diisi dengan Organ Tunggal atau biasa disebut OT.

Hal senada juga nampak pada tampilan ruang di Hotel, Restauran, atau tempat pariwisata. Jarang yang menampilkan ciri khas sunda. Baik dari tata kelola taman nya, bangunannya, bajunya maupun kata sambutannya.

Tentu hal tersebut menjadi PR besar bagi Pemerintah Kabupaten Bogor ke depan. Bagaimana bisa menata segala permasalahan yang ada untuk bisa menjadi satu konsep pariwisata yang mempunyai ciri khas, berkharakter dan memberi kesan khusus bagi warga dan wisatawanya. Cj

Anda mungkin juga berminat