Insiden Robohnya Atap Sekolah SMA, 28 Siswa Mengalami Luka-Luka  

52

Kabupaten Bekasi (Garudanews.id) –  Sebanyak 28 siswa-siswi kelas X IPS, SMAN 1 Muaragembong menjadi korban runtuhnya atap bangunan yang terjadi di dua kelas, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 08:00 WIB, Selasa (28/02), dimana pada saat itu siswa sedang melaksankan kegiatan belajar mengajar (KBM) didalam kelas. Belum diketahui apa penyebab runtuhnya bangunan atap sekolah SMAN 1 Muaragembong, menurut informasi bahwa bangunan tersebut dibangun menggunkan APBN 2014 tahun lalu. Akan tetapi atas kejadian tersebut 28 siswa harus dilarikan ke Puskesmas Muaragembong untuk perwatan atas luka yang diderita. Orang tua murid, Dedi Hermansyah mengatakan pada saat kejadian dirinya mendapatkan informasi dari warga, bahwa sekolah dimana tempat anaknya menempuh ilmu bangunannnya runtuh sehingga mengakibatkan banyak korban didalamnya.

“Ya, saya mendapatkan kabar dari warga bahwa kelas tempat anak saya bersekolah runtuh, saya pun langsung mendatangi ke lokasi dan ternyata korban (siswa,red) sudah dibawa puskesmas,” kata Dedi kepada awak media dilokasi kejadian.

Dirinya mengaku kaget ketika mendengar bahwa bangunan SMAN 1 Muaragembong runtuh, sedangkan menurutnya bangunan tersebut terbilang baru.
“Awalnya saya tidak percaya karena kan bangunannya saya tahu itu masih baru kalau gak salah 2014 lalu dibangun,” ungkapnya.

Menurut keterangan korban yang juga siswa di kelas X IPS SMAN 1 Muaragembong, Yanti mengaku pada saat itu dirinya sedang belajar didalam kelas tiba-tiba atap kelas langsung ambruk dan menimpa dirinya dan yang lainnya, pada saat itu juga dia tidak sempat sadar karena mengalami benturan puing bangunan dikepala.
“Saya juga tidak tau, tiba-tiba ambruk dan menimpa saya,” kata Yanti, sambil meringis kesakitan atas luka.

Menanggapi Hal tersebut Anggota DPR RI Daeng Muhammmad mengaku prihatin dengan kejadian ambruknya atap sekolah SMAN 1 Muaragembong, ditambah korbannya merupakan siswa yang sedang belajar menjadai korban atas ambruknya atap tersebut.
“Saya sangat prihatin mendengar kejadian tersebut, apalagi yang menjadi korban merupakan penerus bangsa ini (Siswa),” kata Daeng dihubungi via telpon.

Daeng juga meminta penegak hukum segera mengusut runtuhnya sekolah SMAN 1 Muaragembong.
“Dengan kejadian ini saya menegaskan sebagai Komisi III DPR RI kepada Aparat Penegak Hukum untuk dapat mengusut tuntas, dan juga demi tidak terjadinya hal yang serupa,” tegasnya.

Lanjut Daeng, persoalan runtuhnya bangunan tersebut mudah untuk mengusut adanya dugaan korupsi apalagi bangun tersebut terbilang baru dibangun.
“Mudah ko untuk membuktikan ada korupsi atau tidak?, liat bestek bandingkan sama realitas kontruksi yang ada,” jelasnya.

Wakapolsek Muaragembong Rusbrata mengatakan, pihaknya mendengar kabar itu dari masyarakat. Sejumlah personel langsung diterjunkan guna mengamankan kejadian. “Sempat terdengar jeritan lumayan kencang dari para siswa yang masih berada di dalam. Selanjutnya personel langsung membantu mengevakuasi korban dan kini tengah dilakukan penanganan medis,” ujarnya.

Rusbrata menambahkan, terdapat 28 siswa yang menjadi korban reruntuhan atap. Mereka mengalami luka akibat tertimpa genting yang berjatuhan.
“Luka serius langsung dibawa ke rumah sakit, sedangkan yang ringan diberi pertolongan di puskesmas, beberapanya sudah dibawa pulang. Sedangkan kegiatan belajar mengajar kami arahkan untuk dihentikan terlebih dahulu,” terangnya.

Hal tersebut diakui Camat Muaragembong, Fahruroji. Menurut dia, dua ruangan itu baru dibangun tiga tahun silam menggunakan konstruksi baja ringan. Hanya saja, dia tidak mengetahui penyebab pasti runtuhnya atap tersebut.
“Penyebabnya belum diketahui pastinya. Sudah ada pihak terkait termasuk kepolisian yang akan menindaklanjuti. Kalau pembangunannya itu baru tiga tahun pakai APBN,” katanya.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian Humas Kepolisian Resor Metro Bekasi, Kompol Kunto Bagus menyatakan, pihaknya langsung melakukan penyelidikkan terkait runtuhnya atap sekolah tersebut. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk pihak sekolah.
“Saat ini proses pengumpulan informasi di lapangan masih dilakukan, termasuk pemeriksaan para saksi. Saat ini kami pun masih mengumpulkan keterangan guna mencari tahu penyebab pasti atap tersebut bisa roboh. Jika memang ada kesalahan pada struktur bangunan, tentunya akan ada tindaklanjut hukum,” ungkapnya.

Hasil pantauan di lapangan, atap yang rubuh itu tersusun dari rangka yang terbuat dari baja ringan. Atap kemudian dipasangi genteng serta eternit. Namun, atap akhirnya ambrol karena rangka baja tersebut tidak mampu menahan beban atap.

Di dekat dua kelas yang atapnya ambruk tersebut terdapat prasasti yang memuat keterangan bangunan. Rupanya gedung tersebut baru dibangun pada 2014 atau tiga tahun lalu. Pada prasasti itu disebutkan bahwa gedung dibangun menggunakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara, hasil kerja sama Direktorat Pembinaan SMA serta dana swadaya SMAN 1 Muaragembong. (AD)

Anda mungkin juga berminat