Rektor UT Didesak Bersikap Arif Dalam Mengangkat Dekan

59

Jakarta (Garudanews.id) – Kata kepemimpinan dan Manajemen, adalah kalimat yang akrab ditelinga kalangan civitas akademika dan lembaga yang lain. “Kepemimpinan” merupakan kegiatan menginspirasi, memotivasi, menetapkan visi dan misi, berpikir strategik, serta memberi jalan keluar terbaik bagi tim kerja dan organisasinya. Sedangkan “Manajemen” menangani semua mata rantai operasi kegiatan lembaga sehari-hari. Demikian penjelasan Dr. Maman Rumanta calon kuat Dekan FKIP-UT, setelah meneng suara hasil pemilihan calon Dekan yang digelar beberapa waktu lau.

Dirinya pun siap bila mendapat amanah untuk memimpin FKIP-UT yang jumlah mahasiswa dan dosennya cukup besar.

“Perlu Anda ketahui bahwa saya belum tentu dilantik,” ungkap Maman menjawab pertanyaan wartawan kemarin.

Menurutnya, menyangkut pemilihan Dekan Universitas Terbuka (UT) untuk  memimpin FKIP UT dalam empat tahun mendatang,  saat ini  Rektor  yang memiliki kewenangan. Sedangkan hasil pemilihan calon dekan oleh senat hanya sebagai bahan pertimbangan.

“Selama ini rektor sering berdalih bahwa pengangkatan pimpinan di UT itu merupakan hak prerogtif rektor, tetapi sekarang rektor tidak mau dibilang memiliki hak prerogratif. Karena menurut rektor sebelum menetapkan nama yang akan dilantik, dia selalu meminta pendapat pimpinan dalam rapim untuk mementukan seorang calon pimpinan tak terkecuali Dekan,” beber Maman baru-baru ini.

Maman pun mengaku pesimis, meski perolehan suara dalam pemilihan Dekan dapat mengungguli incumbent, tapi dia sudah mendengar bahwa dirinya tidak akan menjabat menjadi Dekan.

“Saya kurang tahu pasti, namun pimpinan menganggap saya kalah cakap dalam keterampilan manajemen dibanding incumbent. Padahal saya sudah mengalami beberapa ujian dalam jabatan. Pertama saya pernah penjabat sebagai Kaprodi Pendidikan IPA, Ketua Jurusan MIPA, Pembantu dekan 1 hingga kepala UPBJJ Pangkalpinang dan saat ini saya kembali menjabat sebagai Ketua Jurusan PMIPA. Kalau kurang cakap, kenapa saya dipercaya untuk memimpin hingga saat ini?,” tegasnya.

Sejumlah pihak pun menyayangkan sikap Rektor yang dinilai otoriter terkait dengan pemilihan Dekan. “Mestinya Rektor melakukan kebijakan mengacu pada aturan. Tapi yang terjadi tidak demikian. Rektor mengabaikan proses pemilihan yang telah disepakati,” ujar sumber UT yang enggan disebut identitasnya, baru-baru ini.

Dia mendesak Rektor agar jangan pertaruhkan harga diri kampus untuk kepentingan pribadinya.

Menurut sumber, Rektor UT adalah seorang ilmuwan kaliber dunia dan pandangannya sangat visioner.

“Sehingga kami berharap jangan mematikan demokrasi di institusinya dengan menentang proses demokrasi dan mengabaikn suara hati nurani anggota civitas academika. Ingat, vox populi cox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan,” katanya.

Pihaknya mengharapkan kearifan hati nurani sang rektor untuk menegakkan keadilan dan kebenaran demi tegaknya demokrasi di UT. (Kel)

Anda mungkin juga berminat