Ingin Merebut Kembali Kejayaan Indonesia, Partai Berkarya Sosialisasikan Kepada Masyarakat

112

OKI (Garudanews.id) – Guna menunjang proses perivikasi, sebagai salah satu syarat kepesertaan di Pemilu 2019 mendatang,  Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Berkarya Kabupaten Ogan komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatra Selatan terus melakukan sosialisai kepada masyarakat.

Ketua DPD partai Berkarya, Muhamad Iqbal mengatakan sosialisasi ini dilakukan guna memperkenalkan kepada masyarakat tentang visi misi partai, sekaligus membentuk seluruh struktur partai baik itu tingkat cabang maupun ranting.

“Karena dengan turun langsung kepada masyarakat, tentunya kami sebagai partai baru bisa mendengarkan langsung aspirasi dari warga. Dan tidak sedikit warga yang kami temui sangat antusias dengan hadirnya partai yang ingin mengembalikan kejayaan bangsa ini kembali ke era ke-emasan,” ujar Iqbal kepada garudanews.id di sela-sela sosialisasi partai besutan Tomy Soeharto itu, Kamis, (19/10).

Lanjut Iqbal, dari sosialisasi yang dilakukannya dalam beberapa bulan belakangan ini, ia banyak mendengarkan keluhan masyarakat terkait daya beli masyarakat yang kian menurun.

“Bahkan masyarakat mulai kecewa dengan pola pemerintahan saat ini yang cenderung berpihak kepada kapitalis. Komediti bahan pokok yang beredar saat ini mulai dibanjiri dengan produk impor. Selain itu, banyak juga keluhan masyarakat terkait dengan tarif listrik. Keluhan-keluhan inilah tentunya menjadi bahan evaluasi kami kedepan agar program partai Berkarya lebih perpihak kepada masyarakat,” tandas Iqbal.

Ketika disinggung menganai keberhasilan pemerintahan saat ini yang mengklaim bahwa dalam tiga tahun terakhir ini pertumbuhan ekonomi makro mengalami peningkatan, hal tersebut Iqbal tidak menampik.

“Tapi harus diketahui pertumbuhan ekonomi secara makro mungkin hanya mengacu kepada pembangunan infrastruktur. Tapi, kenyataannya saat ini masyarakat sudah mulai menjerit. Daya beli menurun, serta ditambah pula pencabutan subsidi BBM yang dilakukan secara perlahan. Coba kita lihat dibeberapa tasiun pengisian BBM sudah jarang ditemukan premium, dan saat ini diganti pertalite. Kalu dihitung selisih harganya cukup tinggi. Padahal pada era pemerintahan sebelumnya, BBM naik tiga ratus rupiah aja demo dimana-mana. Artinya saat ini masyarakat dibuat tidak berdaya,” pungkas Iqbal. (Mhmd)

 

 

 

Anda mungkin juga berminat