Pakar ICMI: Anis Gunakan Kata Pribumi dalam Konteks Sejarah

97

JAKARTA (Garudanews.id) – Dewan Pakar ICMI, Anton Tabah Digdoyo, meminta agar pidato perdana Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan yang mengutip kata pribumi tidak langsung dibully oleh pihak-pihak yang tidak suka.

“Kata pribumi dalam pidato itu dalam konteks apa dan bagaimana kalimatnya?, jangan asal tidak senang lalu serba disalahkan, itu namanya waton suloyo,” kata Anton kepada garudanews.id, Kamis (19/10).

Anton menjelaskan, kata tersebut digunakan dalam konteks era penjajah Belanda, karena Jakarta yang paling merasakan penjajahan.

Warga menyaksikan langsung orang Belanda menjajah Indonesia. Hal ini tentu berbeda dengan mereka yg berada didaerah. Meski tahu adanya penjajahan di Indonesia tapi yang langsung menyaksikan itu adalah warga Jakarta.

“Di pelosok-pelosok Indonesia tahu ada Belanda. Tapi tidak melihat di depan mata,” ungkapnya.

Mantan Jenderal Polri tersebut mengingatkan agar jangan sampai pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan dipelintir.

“Dalam pidatonya Senin (16/10) malam, Anies mengatakan, “dulu kita semua pribumi ditindas dikalahkan, kini telah merdeka, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri”, apanya yang salah?, tanya Anton.

Ia mengaku prihatin, karena dulu ada pejabat yang kalau bicara bermajas sarkasme diksinya tak pantas untuk seorang pejabat publik, namun hak itu didiamkan, bahkan di puja-puja. Sementara Anis Baswedan cuma menggunakan majas eufemisme dan Alusio sejarah malah dibully.

Menurut Anton, kata pribumi adalah wajar karena di negara manapun ada. Apalagi dalam kontek sejarah kemerdekaan negara Republik Indonesia, pribumilah yang sungguh-sungguh berjuang memerdekakan negara Indonesia.

Jika menggunakan kata-kata pribumi dilarang, ia mempertanyakan kenapa penghina Gubernur NTB beberapa waktu yabg lalu dibiarkan, padahal lebih menyakitkan dengan kata-kata pribumi tiko pribumi tikus atau babi.

“Jika kita dilarang menggunakan kata-kata pribumi, maka lama-lama kita akan kehilangan jati diri sebagai sebuah bangsa dan telah diperkuat secara konstitusional,” tandasnya. (red)

Anda mungkin juga berminat