Sikapi persoalan di Puncak, warga Bentuk Organ “Puncak  Ngahiji”

186

BOGOR (Garudanews.id) – Saat ini Puncak Bogor sedang disibukan dengan rencana pembongkaran PKL Dan relokasi PKL yang sudah di bongkar sebulan kemarin.

Namun rencana penataan kawasan Puncak oleh Pemerintah Pusat yang imbasnya harus “Menggeser” pelaku usaha kecil pinggir jalan ini menjadi polemik tersendiri bagi warga Puncak.

Pro kontra terkait relokasi menjadikan diskusi panas di grup media sosial masyarakat Puncak.  Satu sisi ada yang membela PKL agar ada relokasi sebelum di bongkar, sisi yang lain, adanya masalah lokasi relokasi yang belum terisi dan dituding adanya organ yang memprovokasi PKL.

“Kita sebagai warga Puncak mencoba menyikapi permasalahan yang lagi rame terkait masalah pembongkaran PKL kemarin serta masalah-masalah Puncak lainnya , seperti masalah Imigran, Debt Collector, Lingkungan dan lain-lain” ujar Bram selaku moderator pertemuan di Wisma Anggraeni, Cisarua, (22/10)

Ujang Pucuk yang menggagas pertemuan mengatakan perlunya warga Puncak mengambil sikap terkait perkembangan suasana di Puncak.

“Kita sebagai warga Puncak perlu menyikapi berbagai hal yang ada di sekitar kita. Sehingga kita betul-betul tahu permasalahan, supaya tidak salah menyikapinya. Masalah Pembongkaran PKL, Pembkab hari ini belum membangun Rest Area, yang di bangun di Semesta Cilember adalah inisiatif kita dengan kawan-kawan di bantu PHRI. Jadi itu bukan bikinan Pembkab Bogor,” ujarnya.

Salah satu peserta  pertemuan, Asep menyampaikan kekesalanya adanya  praktek-praktek Monopoli di Rest Area.

“Saya sebagai pelaku UKM merasakan sulitnya menjual produk di Rest Area di Puncak. Ini karena adanya Praktek Monopoli yang dilakukan oleh pemilik Rest Area. Ini yang perlu kita dorong agar praktek-praktek Monnopoli tidak terjadi di kawasan Puncak sehingga pedagang bebas belanja dan menjual daganganya,”  tandas Asep.

Dudi, warga Cisarua, mengatakan, heran dengan pemerintah . ” Saya heran dengan pemerintah, PKL saja akan di Relokasi, kenapa Imigran tidak bisa di Relokasi?”

Secara umum peserta pertemuan mengakui kurang kompaknya elemen warga masyarakat Puncak. Sehingga beberapa permasalahan yang ada serta potensi-potensi yang ada di ambil alih oleh orang luar Puncak.

Selain permasalahan tersebut, hal – hal lain yang muncul di diskusi adalah minimnya kesempatan bagi warga Puncak di Sektor Usaha dan lapangan pekerjaan, Konsep Pariwisata Puncak yang tidak jelas, tidak di libatkannya dari awak satgas dalam konsep pembuatan lokasi Relokasi PKL di Semesta, perlunya evaluasi harga Sewa Kios di Semesta dan lain-lain.

Di akhir pertemuan di sepakati untuk lebih mengintensifkan komunikasi dan menyikapi permasalahan yang ada, untuk berbuat dan berperan aktif dalam setiap permasalahan yang terjadi diseputar puncak, maka di bentuklah Forum Puncak Ngahiji.

“Kita sepakat membentuk Forum *Puncak Ngahiji*. Jika perlu kita keluar dari Satgas Penataan PKL dan melebur menjadi Forum Puncak Ngahiji sebagai media serta fasilitator masyarakat puncak secara utuh” pungkas Bram. (Nyto)

Anda mungkin juga berminat