Waktu Tempuh Lebih Singkat, Uji Coba Ganjil Genap Tol Jagorawi Sukses

155

JAKARTA  (Garudanews.id) – Hampir sepekan pasca uji coba kebijakan sistem ganjil–genap pada kendaraan pribadi di Gerbang Tol Cibubur 2 ruas Tol Jagorawi oleh Kementerian Perhubungan menuai respon positif karena waktu tempuh di ruas Tol Jagorawi dinilai lebih singkat.

Pengamat Transportasi Yayat Supriatna mengatakan dengan diberlakukannya kebijakan ganjil-genap di Gerbang Tol Cibubur 2 ruas Tol Jagorawi terjadi peningkatan kecepatan kendaraan sehingga waktu tempuh yang diperlukan untuk menuju Jakarta lebih singkat. Pihaknya mengapresiasi pemerintah yang telah berupaya mencari solusi menangani kemacetan.

“Ini luar biasa, kepadatan berkurang, kecepatan bisa lebih baik, waktu tempuh menjadi lebih cepat. Perjalanan lebih cepat itu rata-rata bisa kecepatan 90 – 100 km/jam (di Tol Jagorawi) artinya disini ada kecepatan maksimal yang bisa didapat. Ini sangat membantu para pengguna untuk mendapatkan waktu perjalanan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelum ada ganjil-genap,” kata Yayat di Jakarta, Jumat (20/4).

Akan tetapi diakui Yayat saat ini masih terjadi kepadatan khususnya di ruas Tol Dalam Kota sebagai imbas pertemuan dari arah Bekasi dan Bogor. Namun dikatakan Yayat kepadatannya di di ruas Tol Dalam Kota sudah lebih baik.

“Harus diakui kita masih punya bottle neck nya itu di ruas Tol Dalam Kota. Tapi intinya di dalam kecepatan, di Tol Dalam Kota relatif cukup baiklah, tidak separah dulu. Memang masih ada kepadatan tapi hanya pada beberapa titik saja. Terlebih masih ada pemberlakuan contra flow di Tol Dalam Kota mulai Cawang hingga Semanggi, itu sangat membantu,” ucap Yayat.

Ditambahkan Yayat, dari Bogor ke Grogol di Jakarta ia hanya perlu waktu 1 jam. Menurutnya waktu tempuh ini dulunya hanya didapat pada waktu malam hari saja ataupun pada hari libur.

Pada kesempatan yang sama Yayat mengajak masyarakat untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam upaya mengatasi kemacetan di Ibukota. Yayat menghimbau agar masyarakat yang terdampak kebijakan ini mendukung dengan beralih dari angkutan pribadi ke angkutan umum, termasuk masyarakat yang mengeluhkan kepadatan di jalan arteri sebagai dampak pemberlakuan kebijakan ini. Yayat memastikan kebijakan ini sudah berlandaskan asas keadilan. Selain kebijakan ini dilakukan secara situasional dari pukul 06.00 hingga pukul 09.00, masyarakat pengguna kendaraan pribadi bisa merasakan dampak kebijakan ini secara bergantian, terlebih pemerintah dalam hal ini telah berupaya menyediakan angkutan umum yang layak di titik-titik tertentu.

“Kalau kita tidak ingin masuk ke jalan arteri yang macet sebetulnya tinggal pindah ke angkutan umum saja, kan kondisi angkutan umum yg disediakan tidak seburuk apa yg dirasakan selama ini. Kemudian dari sisi keadilan pun sebetulnya sudah diberlakukan, artinya satu kebijakan ini tidak sepanjang hari hanya dari pukul 06.00 sampai pukul 09.00. Jadi arteri tidak macet selamanya,” ujarnya.

Soal angkutan umum Yayat berharap pemerintah menambah jumlah armada angkutan umum. Hal lainnya soal tarif parkir kendaraan pribadi di titik-titik yang telah ditentukan juga perlu dibuat lebih murah. Menurutnya denga begitu masyarakat akan lebih tertarik untuk berpindah ke angkutan umum karena biaya yang dikeluarkan masyarakat akan lebih murah jika menggunakan angkutan umum. (Snyt)

 

 

Anda mungkin juga berminat