Sekutu AS Siapkan Serangan Balasan Terkait Kebijakan Kenaikan Bea Masuk Baja dan Aluminium Impor

159

JAKARTA (Garudanews.id) – Sekutu AS mulai menyiapkan serangan balasan terhadap kebijakan kenaikan bea masuk baja dan aluminium impor yang ditetapkan Pemerintah Amerika Serikat.

Menteri Perdagangan Amerika Serikat Wilbur Ross mengumumkan bea masuk impor baja sebesar 25 persen dan aluminium 10 persen akan diberlakukan untuk impor dari Uni Eropa, Kanada dan Meksiko, yang efektif berlaku mulai hari ini.

Negara-negara Eropa menyatukan langkah dengan Kanada dan Meksiko untuk memberikan tanggapan terhadap kebijakan itu. Hal itu diungkapkan Menteri Ekonomi Jerman, Peter Altmaier. “Kami ingin perdagangan terbuka, pasar bebas tapi kami harus meyakinkan pemerintah AS lebih dulu,” katanya seperti dikutip Reuters, Jumat (1/6).

“Kami mencoba melakukannya melalui negosiasi dan sekarang kami akan melakukannya dengan bersama-sama dan merumuskan jawaban bersama Eropa. Kami mungkin bekerja lebih erat dengan Meksiko dan Kanada,” katanya. Dia berharap langkah ini akan membuat Trump memikirkan kembali keputusannya.

Kanada, adalah pemasok baja terbesar ke Amerika Serikat. Sebagai tindakan balasan, mereka akan mengenakan tarif yang senilai USD 12,8 miliar untuk impor dari Amerika Serikat. Meliputi wiski, jus jeruk, baja, aluminium dan produk lainnya,

“Pemerintahan Amerika telah membuat keputusan hari ini yang kami sesalkan, dan jelas akan mengarah pada tindakan pembalasan, seperti yang seharusnya,” kata Perdana Menteri Justin Trudeau didampingi Menteri Luar Negeri Chrystia Freeland.

Seperti dilansir dar Gatra, Meksiko mengumumkan tindakan balasan terhadap produk pertanian dan industri Amerika Serikat. Tindakan balasan itu menyasar komoditas seperti kaki babi, apel, anggur, keju, baja dan produk lainnya.

Uni Eropa mengancam mengenakan tambahan tarif untuk sepeda motor Harley Davidson dan bourbon. Komisi Eropa berencana untuk menetapkan biaya masuk hingga USD 3,4 miliar untuk barang-barang impor dari AS. Produk Eropa yang kemungkinan akan menjadi objek tarif baru AS nilainya USD 7,5 miliar. (Red/Lya)

Anda mungkin juga berminat