Golkar Pecah, Partai Pendukung Jokowi Berpaling ke Prabowo-Sandi

78

MALANG (Garudanews.id) – Partai Golkar dinilai tidak solid dalam mendukung pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin di Pilpres 2019. Bahkan, internal Golkar rawan perpecahan akibat tak dipilihnya kader Golkar sebagai Cawapres oleh Jokowi.

Hal tersebut diungkapkan politisi senior yang juga anggota Dewan Pembina Partai Golkar, Fadel Muhammad saat gladi resik penobatan sebagai Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, Selasa (21/8) petang.

“Kita lihat bulan depan, (situasinya) agak rawanlah. Akan dibahas di rapat kerja bulan depan,” kata Fadel.

Menurutnya, Partai Golkar memang telah menentukan pilihan pada kubu Joko Widodo. Penentuan itu setelah dalam sekian upaya agar Ketua Umum Golkar dipilih sebagai wakil presiden, pendamping Joko Widodo.

“Kita sebenarnya mengharapkan, berusaha agar Partai Golkar yang diambil sebagai Wapres. Kita bikin gerakan besar-besaran ke daerah-daerah yang ongkosnya juga mahal, supaya ketua umum Golkar yang diambil, tetapi tidak ternyata,” katanya.

Selaku Dewan Pembina, Fadel mengaku kecewa, karena bukan kade Golkar yang diambil untuk mendampingi Jokowi di Pilpres 2019 mendatang.

“Selama ini kita di parlemen itu mati-matian bela Jokowi, bahkan kita lebih membela dari PDIP. Saya bisa berani bantah bantahan, kita kecewa,” ucapnya.

Sejak awal, Partai Golkar dengan segala dinamikanya mendukung pemerintahan Joko Widodo Jusuf Kalla. Namun memasuki periode kedua, justru Golkar tidak lagi dipilih sebagai Wakil presiden.

“Jadi kita bilang sama Jokowi, ya sudahlah kalau mau ambil Ma’ruf silakan, tapi Golkar sekarang jadi pecah,” tegasnya.

Tidak dipilihnya Airlangga, kata Fadel, juga tidak lepas dari peran ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar yang saat itu ingin sekali menjadi pendamping Joko Widodo.

“Saya dengar dari partai lain juga, Muhaimin Iskandar yang pingin. Pak Kiai dan Muhaimin ini membuat suasana menjadi lain. Ma’ruf Amin sekarang (yang dipilih), Mahfud juga terbawa-bawa,” katanya.

Sebagaimana dikabarkan merdeka.com,  Fadel mengungkapkan bahwa besar kemungkinan beberapa kader Partai Golkar akan mendukung pasangan lain, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Karena itu, kondisi seperti di atas perlu dibahas di internal partai.

“Belum tahu, besar (kemungkian) apalagi Sandiaga Uno orang Gorontalo,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebagai koalisi pendukung pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf Kalla dan pemenang kedua pada Pemilu 2104 silam, Partai Golkar sepertinya tidak mempunyai peran penting dalam menentukan kadernya  pada Pilpres 2019 mendatang.  Hal tersebut terungkap setelah Joko Widodo meminang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin untuk mendampinginya pada Pilpres di tahun 2019.

Padahal sebelumnya nama Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto sempat digadang-gadang untuk menjadi calon wakil Presiden Jokowi. Sudah diprediksi sebelumnya bahwa kepemimpinan Airlangga tidak akan membawa partai berlambang pohon beringin hitam tersebut ke arah lebih baik. Bahkan, Airlangga tampaknya telah puas sebagai relawan Golkar Jokowi (Go-Jo).

Sejumlah kader Golkar pun dibuat kecewa dengan sikap Airlangga yang dinilainya tidak cakap dalam melakukan lobi-lobi politiknya. Bahkan, pada Pipres kali ini Partai Golkar disejajarkan dengan partai gurem pendukung Jokowi. Akibatnya, sejumlah kader senior pun dikabarkan bakal melompat ke Partai Berkarya.

“Belum hilang dalam ingatan kita bahwa Pilpres 2014 silam merupakan pil pahit bagi Golkar. Meski sebagai pemenang Pemilu kedua, Partai Golkar tidak bisa mengusung kader terbaiknya untuk bertarung pada kontestasi Pilpres. Dan kejadian serupa terulang kembali pada Pilpres tahun 2019 mendatang, Golkar harus kembali bernasib sama. Jokowi lebih memilih Maruf Amin ketimbang Airlangga,” ujar pengamat politik dan kebijakan publik, Dr. Adi Suparto kepada, garudanews.id,  Sabtu, (11/8).

Adi menilai, partai pengusung Jokowi tidak rela bila Airlangga menjadi Cawapres. Karena bila Jokowi-Airlangga menang di Pilpres 2019, tentunya pada Pilpres 2024 Airlangga sudah memiliki bekal untuk menjadi RI-1 karena Jokowi tidak bisa maju kembali pada periode berikutnya.

“Dan pengusung Jokowi tentunya tidak rela bila Golkar harus kembali berkuasa. Dan proses inilah sebagai bentuk pengkerdilan partai Golkar secara perlahan,” kata Adi.

(Yan)

Anda mungkin juga berminat