Korban Tewas Akibat Gempa Lombok Bertambah Jadi 436 Orang

69
LOMBOK (Garudanews.id) – Jumlah korban gempa 7 magnitudo yang mengguncang Lombok (NTB) dan Bali terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat hingga Senin (13/8), korban meninggal berjumlah 436 orang.
Sebaran korban meninggal terdiri dari 374 orang di Kabupaten Lombok Utara, 37 orang di Lombok Barat, 9 orang di Kota Mataram, 12 orang di Lombok Timur, 2 orang di Lombok Tengah, dan 2 orang di Kota Lombok 2 orang.
“Jumlah 436 orang meninggal dunia itu adalah korban yang sudah terdata oleh Kepala Desa dan Babinsa. Korban yang sudah terverifikasi dan ada surat kematian di Dinas Dukcapil tercatat 259 orang. Sisanya dalam proses administrasi masing-masing kabupaten,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, seperti dilansir dari Kumparan, Senin (23/8). 
Sutopo mengatakan, sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh saat gempa. Sutopo memastikan, evakuasi korban yang tertimpa puing bangunan dan longsor masih dilakukan oleh Tim SAR gabungan.
Sementara itu, korban luka-luka tercatat 1.353 orang, terdiri dari 783 orang luka berat dan 570 orang luka ringan. Korban luka-luka paling banyak terdapat di Lombok Utara sebanyak 640 orang. Lombok Utara adalah daerah yang paling terdampak gempa karena berdekatan dengan pusat gempa.
Sementara itu, jumlah pengungsi mengalami perubahan. Berdasarkan data dari Posko Tanggap Gempa Lombok pada Senin (23/8), jumlah pengungsi tercatat 352.793 orang. Terdiri dari 137.182 orang di Kabupaten Lombok Utara, 118.818 orang di Lombok Barat, 78.368 orang di Lombok Timur, dan 18.368 orang di Kota Mataram.
“Hal ini disebabkan banyak pengungsi pada siang hari kembali ke rumahnya untuk bekerja di kebun. Pada malam mereka kembali ke pengungsian. Adanya juga pengungsi yang sudah kembali ke rumahnya masing-masing,” terang Sutopo.
Distribusi bantuan logistik ke pengungsi juga terus dilanjutkan ke seluruh pelosok daerah yang terdampak gempa. Bantuan air bersih juga terus dilakukan dengan tanki air. Bak-bak penampungan air dan hidran umum di pengungsian juga terus ditambah.
Sutopo tak menampik, distribusi bantuan ini mengalami kendala karena akses jalan yang rusak dan minimnya transportasi. Untuk mengatasi ini, Sutopo mengatakan, tiga helikopter dari BNPB, TNI, dan Basarnas digunakan untuk distribusi bantuan ke daerah terisolir.
“Kebutuhan mendesak hingga saat ini adalah tenda, selimut, makanan siap saji, terpal alas tidur, MCK, air bersih, perbaikan jaringan komunikasi, penerangan atau listrik, kendaraan untuk distribusi logistik, dan kebutuhan dasar sehari-hari,” pungkas Sutopo. (Red/Lya)
Anda mungkin juga berminat