Ormas Gema Desak Polri Agar Tetap Netral dalam Menghadapi Tahun Politik

168

JAKARTA (Garudanews.id) – Demokrasi di Indonesia kembali tercorang dengan sikap aparat penegak hukum yang menjadi alat kekuasaan. Kepolisian saat ini dinilai tidak netral dalam menghadapi tahun politik jelang Pileg dan Pilpres 2019 mendatang.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Bidang Politik Hukum dan Kemanan, Ormas Gema Mandala (Gema) Berkarya, Tasrif Tuasamu, menyikapi arogansi aparat penegak hukum dalam menolak deklarasi #2019GantiPresiden di sejumlah daerah.

Menurut Tasrif kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum sudah jelas diatur dalam UU Nomor 9 Tahun 1998. Di situ jelas sekali negara membuka ruang bagi rakyatnya untuk mengemukakan aspirasinya.

“Tapi anehnya pihak kepolisian seolah jadi alat kekuasaan. Padahal polisi digaji oleh uang  pajak yang dipungut dari rakyat. Namun, rakyat seakan jadi musuhnya,” ujar Tasrif kepada garudanews.id, Minggu, (26/8).

Tasrif juga mempertanyakan sikap salah satu Ormas yang menghalangi Gerakan #2019 Gantipresiden. “Saya jadi curiga, semacam ada kepanikan dan ketakutan dari rezim. Kemudian polisi dipertanyakan soal netralitasnya. Jangan main-main, Gerakan #2019 Gantipresiden adalah gerakan konstitusional,” ucapnya.

Untuk itu pihaknya mendesak Polri tetap netral dalam menghadapi tahun politik. Karena, kata dia, kalau polisi sudah tidak netral lagi, apalagi ikut dalam konstelasi politik, akan menjadi preseden buruk bagi iklim demokrasi di Indonesia.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais menyoroti tindakan Kabinda Riau yang turun tangan memulangkan Neno dari Pekanbaru, ke Jakarta.

“Kabinda, sesuai tupoksinya di UU Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen, khususnya di pasal 4, 5, 6, tidak bisa melakukan penindakan semacam itu. Itu bukan peran dan wewenang Kabinda,” katanya

Seperti diketahui, deklarasi #2019GantiPresiden di tolak oleh sejumlha daerah. Bahkan pihak Polda Jatim tidak mengelouarkan ijin tersebut.

Sementara itu, pegiat #2019GantiPresiden Neno Warisman ditolak oleh sejumlah massa di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Sabtu (25/8) malam, Bahkan pemulangan Neno dinilai cukup dramatis dan sempat diwarnai ketegangan.

Terungkap dari rekaman video Neno berdurasi 01.30 detik yang disebar melalui pesan berantai WhatsApp pada Sabtu malam. Dokumentasi itu memerlihatkan suasana ketika perempuan berhijab itu dibawa masuk ke area bandara dan dikawal aparat bersenjata laras panjang.

“Ya saya dipaksa pulang naik pesawat. Oo begitu, mau dipaksa pulang. O ternyata dibawa ke sini. Ya ya, tadi mobil ditimpukin dan dipaksa semua orang keluar dari mobil dan sekarang dibawa ke dalam bandara, terus pakai ada senjata semuanya, nih bapak-bapak bersenjata, saya mau dipaksa pulang,” tutur Neno dalam rekaman videonya. (Red)

 

Anda mungkin juga berminat