Dapat Picu Berita Hoax, Stop Istilah Sontoloyo dan Genderuwo

85

JAKARTA (Garudanews.id) –  Ditengah gencarnya aparat penegak hukum dalam memberantas berita hoax yang dinilainya dapat memunculkan konflik horizontal, akan tetapi, memasuki tahun politik sejumlah politisi seperti sengaja menciptakan kalimat yang menimbulkan kegaduhan ditengah masyarakat.

Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noersy menungkapkan kerisauannya atas istilah genderuwo, sotoloyo yang akhir-akhir ini dimunculkan oleh sejumlah politisi menjelang Pilpres. Padahal, istilah tersebut tidak mencerminkan edukasi kepada masyarakat.

Meski kalimat tersebut diungkapkan verbal maupun nonverbal, menurutnya, kalimat itu sudah menunjukan tentang beberapa hal.

“Yang pertama bahwa munculnya istilah tersebut menggambarkan nilai-nilai seseorang. Seperti hebit (kebiasaan) oranya tersebut. Dan itu menggambarkan tingkat pengetahuan yang dimiliki yang berdampak kepada orientasi berfikirnya, dan dibelakang itu ada vonis yang dibangun,” ujar Noersy saat melakukan dialog pagi.

Norsy mengatakan, bahwa bahasa genderuwo dan sontoloyo menggambarkan referensi dan nilai-nilai seseorang. Karena kebiasaan berfikir dan kepentingan orang tersebut.

“Untuk itu bahasa itu dijadikan alat untuk memanipulasi situasi lewat penciptan kata-kata. Karena bahasa yang memanipulasi situasi dapat menimbulkan hoax,” ujarnya, Selasa (13/11).

Dirinya tidak setuju dengan istilah cebong, kampret, maupun sontoloyo dan genderuwo ataupun istilah lainnya. “Karena sejak lama muncul kalimat tersebut tengah mengundang kontroversi,” ucap pengamat ekonomi senior tersebut.

Untuk itu ia mengimbau masyarakat agar tidak terbawa arus kata-kata.

“Mari kita belajar pertanggungjawabkan kata-kata. Karena segala frekwensi kita akan dipertanggungjawabkan, seperti frekwensi mata frekwensi pendengran dan frekwensi bukhul,” ucapnya. (Rel)

 

Anda mungkin juga berminat