Guru Honorer Semringah Sambut Usulan Gaji Setara UMR

313

JAKARTA (Garudanews.id) – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengusulkan gaji guru honorer setara upah minimum regional (UMR) di masing-masing daerah. Hal ini langsung disambut baik oleh para pelaku guru honorer.

Guru honorer SMAN 13 Maros Sulawesi Selatan, Khayriah salah satunya. Dia menganggap apa yang diusulkan itu merupakan bentuk langkah baik bagi para guru honorer. Selama ini, guru honorer digaji jauh dari kata layak, terlebih yang belum tersertifikasi.

“Selama ini kita memperoleh gaji itu jauh jika dibandingkan UMR. UMR sini sekitar Rp 3 juta, sementara gaji guru honorer yang tersertifikasi saja, itu jauh di bawah itu. Jadi ini satu hal yang baik,” kata dia, dikutip dari Liputan6, Jumat (25/1).

Hanya saja, menurut dia, pemerintah tidak bisa menyamaratakan sistem penggajian guru honorer jika nanti harus sesuai UMR. Guru yang sudah disertifikasi pemerintah, harus mendapat tunjangan tersendiri.

Baginya, selama ini guru honorer yang sudah tersertifikasi tersebut telah memiliki kemampuan dan kompetensi lebih tinggi jika dibandingkan yang belum tersertifikasi.

“Ya kita sudah diakui ini ilmu mengajar kita, kita sudah melewati satu tahapan lebih, masak terus disamaratakan dengan yang honorer belum tersertifikasi,” tegas wanita yang sudah menjadi gutu honorer lebih dari 10 tahun itu.

Di kesempatan terpisah, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim menambahkan, pihaknya sebagai asosiasi siap mendukung upaya pemerintah untuk menjadikan para guru honorer ini lebih sejahtera.

“Prinsipnya itu langkah bagus, apapun upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru baik honorer atau bukan, kita pasti dukung,” kata dia.

Namun, sebelum melaksanakan kebijakan itu, Ramli mengusulkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa perbaikan tata kelola guru honorer di Indonesia, mulai dari perekrutan hingga pendataan guru honorer.

Diakuinya, selama ini belum ada data pasti yang dijadikan patokan, berapa jumlah guru honorer di Indonesia. Jika ini tidak dilakukan terlebih dahulu, dikhawatirkan sistem ini tidak tepat sasaran.

“Juga soal rekrutmen guru honorer itu juga harus jelas, ada tesnya, ada uji kompetensinya, seperti itu. Selama ini kan masih banyak guru honorer yang statusnya titipan,” ungkap dia. (Sfa)

Anda mungkin juga berminat