Pemprov NTB Minta Lion Air Turunkan Harga Tiket ke Lombok

82

MATARAM (Garudanews.id) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) meminta manajemen Lion Air Group membantu percepatan pemulihan sektor pariwisata Lombok melalui sisi penerbangan. Hal itu dikatakan Gubernur NTB Zulkieflimansyah saat bertemu Duta Besar Indonesia untuk Malaysia dan juga pemilik maskapai Lion Air Group Rusdi Kirana di Malaysia, Senin (25/2).

Zul, sapaan akrab Zulkieflimansyah, meminta bantuan Rusdi memperbanyak frekuensi dan rute penerbangan Lion Air Group dari dan ke Lombok, sekaligus menurunkan harga tiket.

“Harga tiket yang mahal ini jelas memukul upaya pariwisata NTB untuk bangkit dari keterpurukan pascagempa. Begitu juga makin berkurangnya penerbangan langsung ke Lombok. Kami berharap Lion Air Group bisa membantu NTB dengan memperbanyak penerbangan langsung dari luar negeri atau dalam negeri ke Lombok,” ujar Zul, seperti dikutip dari Republika di Mataram, NTB, Senin (25/2).

Rusdi Kirana mengatakan melambungnya harga tiket memang jadi persoalan baru di dunia transportasi udara. Menurutnya, butuh kerja sama yang baik dan terpadu antara maskapai dengan pemerintah daerah dan PT Angkasa Pura sebagai pengelola bandara-bandara di berbagai wilayah.

“Maskapai Lion Group beroperasi 11 jam per harinya, sebagai salah satu strategi mengejar tiket murah. Tapi dengan 11 jam menyebabkan jadwal kami sering tidak on time. Akhirnya publik protes. Lion sering diomelinkarena delay melulu. Nah sekarang jadi 7 jam beroperasi, supaya bisa tepat waktu, tapi konsekuensinya tiket nggak lagi bisa murah,” kata Rusdi.

Untuk mengakomodasi kebutuhan seperti yang diungkapkan Gubernur NTB, Rusdi menjelaskan perlunya subsidi atau insentif kebijakan dari pemda setempat. Misalnya pemda menyediakan lahan untuk dijadikan tempat parkir atau hanggar tambahan bagi pesawat sehingga mengurangi anggaran maskapai.

Gubernur Zul menyatakan bakal mempertimbangkan masukan dari pemilik Lion Air Group tersebut. Zul menilai keberadaan bandara lama Selaparang di Mataram dapat digunakan sebagai hanggar atau lahan parkir pesawat dan bisa menjadi salah satu solusi alternatif untuk memberikan insentif kebijakan pada maskapai.

“Pada akhirnya, diharapkan relasi simbiosis mutualisme itu bisa berdampak pada penurunan harga tiket dan juga memperbanyak frekuensi penerbangan dari dan ke Lombok, termasuk rute-rute penerbangan langsung,” kata Zul menambahkan. (Sfa)

Anda mungkin juga berminat