Harga Minyak Jatuh, Jauhi Tertinggi 2019 Imbas Kekhawatiran Permintaan

66

NEW YORK (Garudanews.id) – Harga minyak mentah turun sekitar dua persen pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), tergelincir lebih jauh dari tertinggi 2019, karena fokus bergeser ke kurangnya kemajuan dalam pembicaraan perdagangan Amerika Serikat (AS)-China dan data manufaktur suram dari Jerman dan AS menyalakan kembali kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan permintaan minyak.

Indeks-indeks utama Wall Street anjlok antara satu hingga dua persen, setelah produsen-produsen di Eropa, Jepang dan Amerika Serikat menderita pada Maret karena survei menunjukkan ketegangan perdagangan telah mempengaruhi produksi pabrik, sebuah kemunduran karena harapan ekonomi global akan mengubah sudut pada perlambatannya.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun 0,83 dolar AS atau 1,2 persen, menjadi ditutup pada 67,03 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, dan turun sekitar 0,2 persen pada minggu ini. Kontrak mencapai level tertinggi empat bulan di 68,69 dolar AS pada Kamis (21/3).

Acuan global minyak mentah Brent telah meningkat lebih dari 20 persen sejak awal Januari, karena pemotongan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, seperti Rusia, dan sanksi-sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 0,94 dolar AS atau 1,6 persen, menjadi menetap pada 59,04 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. WTI mencapai tertinggi 2019 pada Kamis (21/3) di 60,39 dolar AS dan naik 0,8 persen pada minggu ini.

“Data PMI mengecewakan hari ini dari Jerman dan Prancis mendorong kenaikan dolar lebih lanjut, sementara pada saat yang sama menekan selera risiko global,” kata Presiden Ritterbusch and Associates, Jim Ritterbusch.

Dolar AS naik terhadap euro pada Jumat (22/3) ke level tertinggi dalam lebih dari seminggu. Dolar AS yang kuat membuat minyak lebih mahal untuk pemegang mata uang lainnya.

“Fakta bahwa faktor-faktor makro ini mampu mengimbangi dampak harga dari laporan bullish EIA yang luar biasa membuktikan kerapuhan pergerakan bull dalam tiga bulan dalam minyak.”

Data Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu (20/3) menunjukkan bahwa stok minggu lalu turun hampir 10 juta barel, terbesar sejak Juli, berkat ekspor dan permintaan penyulingan yang kuat.

Karena pertumbuhan ekonomi melambat di Asia, Eropa, dan Amerika Utara, berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar, tidak ada terobosan yang muncul dalam kebuntuan perdagangan antara Washington dan Beijing, setidaknya sebelum pertemuan yang dijadwalkan pada 28-29 Maret.

Negosiasi perdagangan dengan China mengalami kemajuan dan kesepakatan akhir “mungkin akan terjadi,” kata Presiden AS Donald Trump dalam sebuah wawancara televisi yang ditayangkan pada Jumat (22/3).

Tiga dari empat perusahaan Jepang memperkirakan friksi perdagangan AS-China berlangsung hingga setidaknya akhir tahun ini, sebuah jajak pendapat Reuters menemukan.

Lompatan lebih dari dua juta barel per hari dalam produksi minyak mentah AS sejak awal 2018 ke rekor 12,1 juta barel per hari telah menjadikan Amerika Serikat sebagai produsen terbesar dunia, di depan Rusia dan Arab Saudi.

Hal ini mengakibatkan peningkatan ekspor, yang naik dua kali lipat dari tahun lalu menjadi lebih dari 3 juta barel per hari. Badan Energi Internasional memperkirakan bahwa Amerika Serikat akan menjadi pengekspor minyak mentah bersih pada 2021.

Perusahaan-perusahaan energi AS minggu ini mengurangi jumlah rig minyak yang beroperasi selama lima minggu berturut-turut, mengurangi sembilan rig ke jumlah terendah dalam hampir setahun, karena produsen-produsen independen menindaklanjuti rencana untuk memotong pengeluaran dengan pemerintah memangkas perkiraannya untuk pertumbuhan produksi serpih. (Ant/Sfa)

Anda mungkin juga berminat